PERAN SUAMI ISTRI DALAM MEMBANGUN KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WARAHMAH

 

PERAN SUAMI ISTRI DALAM MEMBANGUN KELUARGA SAKINAH, PEMAHAMAN DAN KONSEP KELUARGA SAKINAH DALAM ISLAM, SKRIPSI KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WARAHMAH, SKRIPSI STAI, SKRIPSI IAIN, MAKALAH TENTANG KELUARGA SAKINAH, ARTI KELUARGA SEKINAH, PENGERTIAN KELUARGA SAKINAH, KELUARGA SAKINAH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Membangun keluarga sakinah suami istri harus memahami hak dan kewajiban masing-masing, sehingga mampu memberikan tenaga dan pikiran guna terciptanya keluarga sakinah tersebut. Peran suami dan istri dalam sebuah rumah tangga memiliki peranan penting demi keharmonisan dan kelangsungan rumah tangga. Masing-masing pihak punya peran tersendiri sehingga tidak memerankan peran secara bersamaan. Dari peran tersebut maka diharapkan saling membantu satu sama lain sebelum benar-benar mampu menjadikan keluarga menjadi sakinah.

Dalam sebuah rumah tangga setiap suami istri punya hak dan kewajiban masing-masing, dengan berpegang teguh pada hak dan kewajiban tersebut maka sebuah keluarga akan menjadi sakinah dengan sendirinya.

1. Hak Bersama Suami-Istri

Diantara hak-hak bersama suami istri antara lain:[1]

a. Suami istri dihalalkan saling bergaul mengadakan hubungan seksual. Perbuatan ini merupakan kebutuhan bersama suami istri yang dihalalkan secara timbal balik. Suami halal berbuat kepada istrinya sebagaimana istri kepada suaminya. Ini adalah hak bersama suami istri, dan tidak boleh dilakukan jika tidak secara bersamaan, sebagaimana tidak boleh dilakukan secara sepihak saja.

b. Haram melakukan perkawinan; istri haram dinikahi oleh ayah suaminya (mertua laki-laki), kakaknya, anaknya dan cucu-cucunya. Begitu juga suami haram menikahi ibu istrinya (mertua perempuan), anaknya dan cucunya.

c. Hak saling mendapat warisan akibat dari ikatan perkawinan yang sah, bilamana salah seorang meninggal dunia sesudah sempurnanya ikatan perkawinan, yang lain dapat mewarisi hartanya sekalipun belum pernah berhubungan seksual.

d. Anak mempunyai nasab (keturunan) yang jelas bagi suami.

e. Kedua belah pihak wajib bergaul (berperilaku) yang baik, sehingga dapat melahirkan kemesraan dan kedamaian hidup.

Hak dan kewajiban suami istri dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 77 dan 78, dijelaskan sebagai berikut:[2]

Pasal 77

1. Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah yang menjadi sendi dasar dari dari susunan masyarakat.

2. Suami istri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain.

3. Suami istri memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan jasmani, rohani maupun kecerdasannya dan pendidikan agamanya.

4. Suami istri wajib memelihara kehormatannya.

5. Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya, masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama.

Pasal 78

1. Suami istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap.

2. Rumah kediaman yang dimaksud dalam ayat (1) ditentukan oleh suami istri bersama.

2. Kewajiban Suami dan Hak Istri

Kewajiban suami dijelaskan didalam KHI dalam pasal 80, 81 dan 82, sebagai berikut:[3]

Pasal 80

Kewajiban Suami

1. Suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tangganya, akan tetapi mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh suami istri bersama.

2. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala keperluan hidup rumah tangga sesuai dengan kemampuannya.

3. Suami wajib memberi pendidikan agama kepada istrinya dan memberi kesempatan belajar pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama dan bangsa.

4. Sesuai dengan penghasilannya, suami menanggung:

a. Nafkah, kiswah, dan tempat kediaman bagi istri.

b. Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri dan anak.

c. Biaya pendidikan bagi anak.

5. Kewajiban suami terhadap istrinya seperti tersebut pada ayat (4) huruf a) dan b) diatas mulai berlaku sesudah ada tamkin sempurna dari istrinya.

6. Istri dapat membebaskan suaminya dari kewajiban terhadap dirinya sebagimana tersebut pada ayat (4) huruf a) dan b).

7. Kewajiban suami sebagaimana dimaksud ayat (5) gugur apabila istri nusyuz.

Pasal 81

Tempat kediaman

1. Suami wajib menyediakan tempat kediaman bagi istri dan anak-anaknya atau bekas istri yang masih dalam iddah.

2. Tempat kediaman adalah tempat tinggal yang layak untuk istri selama dalam ikatan perkawinan atau dalam iddah talak atau iddah wafat.

3. Tempat kediaman hanya disediakan untuk melindungi istri dan anak-anaknya dari gangguan pihak lain, sehingga mereka merasa aman dan tentram. Tempat kediaman juga berfungsi sebagai tempat menyimpan harta kekayaan, sebagai tempat menata dan mengatur alat-alat rumah tangga.

4. Suami wajib melengkapi tempat kediaman sesuai dengan kemampuannya serta disesuaikan dengan keadaan lingkungan tempat tinggalnya, baik berupa alat perlengkapan rumah tangga maupun sarana penunjang lainnya.

Pasal 82

Kewajiban suami yang beristri lebih dari seorang

1. Suami yang mempunyai istri lebih dari seorang berkewajiban member tempat tinggal dan biaya hidup masing-masing istri secara berimbang menurut besar kecilnya keluarga yang ditanggung masing-masing istri, kecuali jika ada perjanjian perkawinan.

2. Dalam hal para istri rela dan ikhlas, suami dapat menempatkan istrinya dalam satu tempat kediaman.

3. Kewajiban Istri dan Hak Suami

Diantara beberapa kewajiban istri terhadap suami adalah sebagai berikut:[4]

a. Taat dan patuh kepada suami.

b. Pandai mengambil hati suami melalui makanan dan minuman.

c. Mengatur rumah dengan baik.

d. Menghormati keluarga suami.

e. Bersikap sopan, penuh senyum kepada suami.

f. Tidak mempersulit suami dan selalu mendorong suami untuk maju.

g. Ridha dan syukur terhadap apa yang diberikan suami.

h. Selalu berhemat dan suka menabung.

i. Selalu berhias, bersolek untuk atau dihadapan suami.

j. Jangan selalu cemburu buta.

Menurut KHI dalam pasal 83, 84, kewajiban seorang istri atas suami antara lain:[5]

Pasal 83

Kewajiban Istri

1. Kewajiban utama bagi seorang istri ialah berbakti lahir dan batin kepada suami didalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum Islam.

2. Istri menyelenggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga sehari-hari dengan sebaik-baiknya.

Pasal 84

1. Istri dapat dianggap nusyuz jika ia tidak mau melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 83 ayat (1) kecuali dengan alasan yang sah.

2. Selama istri dalam nusyuz kewajiban suami terhadap istrinya tersebut pada pasal 80 ayat (4) huruf a) dan b) tidak berlaku kecuali hal-hal untuk kepentingan anaknya.

3. Kewajiban suami tersebut pada ayat (2) diatas berlaku kembali sesudah istri tidak nusyuz.

4. Ketentuan tentang ada atau tidak adanya nusyuz dari istri harus didasarkan atas bukti yang sah.

Menurut Muslich Taman dan Aniq Farida kewajiban istri dan hak suami yaitu taat dan patuh kepada suami, merupakan kewajiban paling utama istri, begitu penting ketaatan ini, sehingga Rasulullah menyatakannya bahwa ini menjadi kunci wanita untuk masuk surga. Melayani suami dengan baik, mengatur rumah dan segala isinya merupakan tugas istri, begitu pula melayani suami, selama istri mampu melakukannya.[6]

Kewajiban istri melayani suami harus didahulukan meskipun sedang melakukan pekerjaan rumah lainnya. Menyenangkan hati suami, seorang istri hendaknya selalu menyenangkan hati suaminya. Untuk itulah Rasulullah menganjurkan agar istri senantiasa berdandan dihadapan suaminya. Istri yang kurang bisa menjaga penampilan, tidak pandai berdandan dan tampak kumuh merupakan salah satu alasan umum yang diungkapkan para suami yang berselingkuh atau menikah lagi. Menjaga kehormatan dan harta suami, istri yang shalehah adalah istri yang menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya. Tidak seenaknya pergi keluar tanpa izin suaminya dan tidak sembarangan memasukkan laki-laki lain kedalam rumahnya pada saat tidak ada suaminya, kecuali yang diizinkan oleh syari’at.

Menghargai dan mensyukuri pemberian suami, sekecil apa pun pemberian suami, istri wajib menghargai dan mensyukuri setiap pemberian dari suaminya, alangkah baiknya jika ia menampakkan kesenangannya dengan pemberian itu, walaupun mungkin ia kurang berkenan dengan pemberian itu.

DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013
FIKIH
QURAN HADITS
SEJARAH
BAHASA INDONESIA
BAHASA INGGRIS
BAHASA ARAB
SKI
FISIKA
KIMIA
BIOLOGI
MATEMATIKA
SOSIOLOGI
GEOGRAFI
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
EKONOMI
PKN
IPA TERPADU
IPS TERPADU
SENI BUDAYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *