Pengertian Pendidikan Agama Islam dan Kaitannya dengan Pancasila, UUD 1945, GBHN

Pengertian Pendidikan Agama Islam dan Kaitannya dengan Pancasila, UUD 1945, GBHN. Pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Sehingga pendidkan dipandang sebagai salah satu aspek yang memiliki peranan pokok dalam membentuk generasi muda agar memiliki kepribadian yang utama.

Dalam Islam pada mulanya pendidikan Islam disebut dengan kata “ta’dib”. Kata “Ta’dib”mengacu pada pengertian yang lebih tinggi, dan mencakup unsur-unsur pengetahuan (‘ilm) pengajaran (ta’lim) dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). Akhirnya dalam perkembangan kata ta’dib sebagai istilah pendidikan telah hilang peredarannya, dan tidak dikenal lagi, sehingga ahli pendidik Islam bertemu dengan istilah At Tarbiyah atau Tarbiyah, sehingga sering disebut Tarbiyah. Sebenarnya kata ini berasal dari kata “Robba-yurabbi-Tarbiyatan” yang artinya tumbuh dan berkembang. Maka dengan demikian populerlah istilah “Tarbiyah” diseluruh dunia Islam untuk menunjuk pendidikan Islam. 1

Terdapat beberapa pengertian mengenai Pendidikan Agama diantaranya sebagai berikut:

  1. Dalam Enclylopedia Education, Pendidikan Agama Islam diartikan sebagai suatu kegiatan kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan orang beragama. Dengan demikian perlu diarahkan kepada pertumbuhan moral dan karakter. Pendidikan agama tidak cukup hanya memberikan pengetahuan tentang agma saja, akan tetapi disamping pengetahuan agama, mestilah ditekankan pada aktivitas kepercayaan.2
  2. Ahmad D. Marimba mengemukakan bahwa Pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (insane kamil).3
  3. Menurut Zakiyah Darajat dalam bukunya karangan abdul Majid Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.4
  4. Tayar Yusuf mengartikan Pendidikan Agama Islam sebagai usha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan, dan ketrampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah.5
  5. Menurut Ahmad Tafsir dalam bukunya Abdul Majid Pendidikan agama Islam adalah bimbingan yang diberikan seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam. 6

Dari beberapa definisi pendidikan Islam di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah sebagai berikut:

  1. Segala usaha berupa bimbingan terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak, menuju terbinanya kepribadian utama sesuai dengan ajaran agama Islam.
  2. Suatu usaha untuk mengarahkan dan mengubah tingkah laku individu untuk mencapai pertumbuhan kepribadian yang sesuai ajaran Islam dalam proses kependidikan melalui latihan-latihan akal pikiran (kecerdasan, kejiwaan, keyakinan, kemauan dan perasaan serta panca indera) dalam seluruh aspek kehidupan manusia.
  3. Bimbingan secara sadar dan terus menerus yang sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah dan kemampuan ajarannya pengaruh diluar) baik secara individu maupun kelompok sehingga manusia memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam secara utuh dan benar. Yang diaksud utuh dan benar adalah meliputi Aqidah (keimanan), Syari’ah (ibadah mu’amalah) dan Akhlak (budi pekerti)

Dengan keimanan yang benar memimpin manusia ke arah usaha mendalami hakekat dan menuntut ilmu yang benar. Sedangkan ilmu yang benar memimpin manusia ke arah amal yang sholeh.

Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam

Dasar dan tujuan pendidikan adalah merupakan masalah yang sangat fondamental dalam pelaksanaan pendidkan. Sebab dari dasar pendidikan itu akan menentukan corak dan misi pendidikan, dan dari tujuan pendidikan akan menentukan ke arah mana peserta didik itu akan diarahkan/dibawa.” Yang dimaksud dasar pendidikan disini adalah sutu landasan yang dijadikan pegangan dalam menyelenggarakan pendidikan. Pada umumnya yang menjadi landasan dalam penyelenggaraan pendidikan.

Adapun dasar pendidikan yang secara lansung mengatur mengatur pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah di Indonesia yaitu: dasar operasional. Dalam hal ini sebagaimana yang dinyatakan dalam ketetapan MPR No. XXVII/MPR/1973 Bab 1 pasal 1 yang berbunyi:7

“ Menetapkan pendidikan agama menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah mulai Sekolah Dasar sampai dengan universitas-universitas negeri “

Dalam hal ini banyak ayat Al-qur’an yang menunjukkan adanya perintah untuk melaksanakan pendidikan agama, antara lain;

Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat: 125, yaitu:

أُدْعُ إِلىَ سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِى هِيَ أَحْسَنُ.

(انحل : 125)

Artinya: “ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hukmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (Q.S An-Nahl:125)8

Ayat diatas memberikan pengertian kepada kita bahwa dalam ajaran Islam memang ada perintah untuk mendidik dan mengembangkan agama, baik kepada keluarganya maupun kepada orang lain sesuai dengan kemampuannya.

Dasar pelaksanaan pendidikan agama Islam mempunyai status yang sangat kuat. Adapun dasar pelaksanaan tersebut dapat ditinjau dari segi yaitu:

  1. Yuridis/Hukum
  2. Religius
  3. Sosial Psikologi9

Yuridis

Yang dimaksud dengan dasar yuridis adalah peraturan dan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaan pendidikan agama di wilayah suatu negara. Adapun dasar dari yuridis di Indonesia adalah;

Pancasila

Dasar pendidikan agama yang bersumber pancasila khususnya sila pertama ini mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia harus percaya kepada Tuhan yang Maha Esa. Untuk merealisasikan sila pertama ini diperlukan adanya pendidikan agama, karena tanpa pendidikan agama akan sulit mewujudkan sila pertama tersebut.

UUD 1945

Yang digunakan sebagai dasar dari UUD 1945 mengenai pendidikan agama ini sebagaimana yang tertera dalam pasal 29 ayat 2 yang berbunyi:

“ Negara berdasarkan atas ketuhanan yang Maha esa. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk memeluk agama asing-masing dan beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya itu. (UUD 1945; 7)

Berdasarkan pada UUD 1945 tersebut, maka bangsa Indonesia merupakan bangasa yang menganut suatu agama dan kepercayaan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Dalam arti negara melindungi umat beragama untuk menunaikan ajaran agamanya dan beribadah menurut agama masing-masing.

Garis-Garis Besar Haluan Negara

Dalam Tap MPR No. II/MPR/1993 tentang BBHN dinyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan agama secara langsung dimasukkan kedalam kurikulum sekolah, mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi. Hal ini diperkuat lagi dengan UU No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab IX pasal 39 ayat 2 dinyatakan: Isi kurikulum setiap jenis pendidkan, jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat:

  • Pendidikan Pancasila
  • Pendidkan Agama
  • Pendidikan Kewarganegaraan

Dari ketetapan diatas jelas bahwa pemerintah Indonesia memberi kesempatan kepada seluruh bangsa Indonesia untuk melaksanakan pendidkan agama, dan bahkan pendidikan yang sudah jelas secara langsung dimasukkan dalam kerikulum di sekolah mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi.10

Dasar Religius

Mengenai dasar pendidikan agama Islam ini adalah Al- Qur’an dan Hadits, yang tidak diragukan kebenarannya, hal ini sesuai dengan firman Allah Surat Al-Imron ayat:104

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ.(العمران:104)

Artinya:”Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada ma’ruf dan mencegah yang mungkar”(Q.S Al-Imron: 104)

Berdasarkan ayat tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa sebagai umat manusia hendaklah selalu melakukan melakukan kebaikan dan mencegah ke mungkaran untuk mengembangkan kehidupan manusia kearah kesempurnaan atau manusia dalam arti seutuhnya yaitu manusia sebagai makluk individu, social, berakhlak atau bermoral dan sebagai makluk ciptaan Tuhan.11

Dasar Sosial Psikologi

Bagi manusia pemenuhan kebutuhan jasmani saja belum cukup tanpa kebutuhan rohani. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka dibutuhkan suatu pegangan hidup yang disebut agama karena dala ajaran agama tersebut ada perintah untuk saling tolong-menolong dalm hal kebaikan dan menjauhi hal-hal yang dilarang oleh agama.

Pendidikan agama Islam selain memiliki dasar jugaa memiliki tujuan, sebab setiap usaha atau kegiatan yang tidak ada tujuan, hasilnya akan sia-sia dan tidak terarah. Bila pendidikan kita pandang sebagai suatu

Proses, maka proses tersebut akan berakhir pada pencapainnya tujuan akhir pendidikan. Tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan pada hakekatnya adalah suatu perwujudan dari nilai-nilai ideal yang dibentuk dalam pribadi manusia yang diiginkan. Dan nilai-nilai inilah yang akan mempengaruhi pola kepribadian manusia dan, sehingga mempengaruhi tingkah laku.

Karena yang hendak dibahas disini adalah Pendidikan Agama Islam, maka berarti akan megetahui lebih banyak tentang nilai-nilai ideal yang bercorak Islami. Nilai-nilai ideal tercermin dalam perilaku lahiriyah yang berasal dari jiwa manusia sebagai produk dari proses pendidikan. Jadi Tujuan Pendidikan agama Islam pada hakekatnya mengandung nilai perilaku manusia yang didasari dan dijiwai oleh iman dan taqwa pada Allah SWT.

Pengertian Pendidikan Agama Islam dan Kaitannya dengan Pancasila, UUD 1945, GBHN

            Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang tujuan pendidikan agama Islam, maka berikut ini akan penulis kemukaakn beberapa pendapat dari para ahli mengenai tujuan pendidikan agama Islam:

  1. Zuhairini, dkk mengemukakan bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah membimbing anak-anak agar mereka menjadi oaring muslim sejati, beriman teguh, beramal sholeh, berakhlak mulia, serta berguna bagi masyarakat, agama dan negara12
  2. Menurut M. Athiyah Al- Abrosyi, bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam adalah “ Pembentukan Aklakhul Karimah”13 Ini merupakan tujuan utama pendidikan agama Islam. Para ulama dan sarjana mulim yang penuh pengertian berusaha menanamkan aklak mulia yang merupakan fadhilah dalam jiwa anak sehingga mereka terbiasa berpegang pada moral yang tinggi dan terhindar dari hal-hal yang tercela dan berfikir secara rohaniah dan insaniyah serta menggunakan waktu untuk belajar ilmu-ilmu duniawi dan ilmu keagamaan tanpa memperhitngkan keuntungan-keuntungan materi.
  3. Menurut D. Marimba, mengemukakan bahwa tujuan Pendidikan Islam adalah mencakup tujuan sementara dan tujuan akhir pendidikan Islam. Untuk mencapai tujuan akhair pendidikan harus dilampaui terlebih dahulu beberapa tujuan sementara. Tujuan akhir pendidikan Islam adalah” Terbentuknya Kepribadian Muslim”14

Dari berbagai pendapat tersebut diatas dapat diabil kesimpulan bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah:

  • Dapat memahami ajaran –ajaran Islam secara sederhana dan bersifat menyeluruh, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman hidup dan amalan perbuatannya, baik dalam hubungan dengan Allah, dengan masyarakat dan hubungan dengan sekitarnya.
  • Membentuk pribadi yang berakhlak mulia sesuai dengan ajaran Islam.

Referensi Penting

1 Zuhairini  dkk, Metodologi Pendidikan Agama 1, Ramadhani, Solo, 1993 ,hlm; 9

2 Ibid hal 10

3 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Ciputat Pres, Jakarta.2002 ,hlm ;32

4 Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam  (KBK 2004) Remaja Rosda Karya, Bandung,2004. hlm;130

5 Ibid hal 131

6 Ahmad Tafsir, Imu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Remaja Rosdakarya, Bandung,1992. hlm 24

7 Zuhairin idkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Usaha  Nasional, Surabaya,1981,hal 18

8 Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya, hlm 421

9 Zuhaironi Dkk, Metodologi Pendidikan Agama, Ramadhani,Solo,1993, hlm 132

10 Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam , PT Remaja Rosdakarya, Bandung.2004 hlm 133

11 Siti Kusrini, Wawasan Pendidkan Islam, Malang: IAIN Sunan Ampel,1991. hlm 8

12 Zuharini,dkk, Op, cit, hal; 43

13 m. athiyah Al – abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1970, hlm; 10

14 Ahmad D. Marimba. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Al- Ma’arif, bandung, 1989, hlm; 45