Pengertian Akhlakul Karimah Lengkap Teori dari Ahli

Pengertian Akhlakul Karimah Lengkap Teori dari Ahli – Pendidikan agama Islam menjadi objek studi, yang lebih penting adalah keteladan dan penghayatan serta pengalaman setiap hari, karena pendidikan agama tidakhanya berfungsi sebagai konsumsi otak, melainkan juga untuk konsumsi hati sebagai penuntun akhlak. Sehingga pendidikan agama Islam dalam suatu sekolah sangat penting untuk membina  dan menyempurnakan pertumbuhan anak didik.

Pengertian Akhlakul Karimah Lengkap Teori dari Ahli

            Di lihat dari sudut bahasa (etimologi) perkataan akhlak adalah bentuk jama’ dari kata khuluq yang artinya budi pekerti, tingkah laku dan tabiat.[1]

Sedangkan pengertian akhlak menurut para ahli adalah

  1. Menurut Ibn Maskawih

Akhlak adalah keadaan gerak jiwa yang mendorong kearah melakukan perbuatan dengan tindakan menghajatkan fikiran.[2]

  1. Menurut Ahmad Amin

Akhlak adalah suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak mana berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (dalam hal akhlak baik) atau pihak yang jahat  (dalam hal akhlak jahat)[3]

  1. Menurut Al- Qurtubi

Akhlak adalah sifat-sifat seseorang, sehingga dia dapat berhubungan dengan orang lain. Akhlak ada yang terpuji dan ada yang tercela.[4]

Dari ketiga pendapat diatas dapat diabil kesimpulan bahwa, akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang. Yang mana dari sifat tersebut perbuatan, dimana perbuatan tersebut dapat berupa perbuatan baik atau buruk tanpa melakukan pertimbanagan akal pikiran terlebih dahulu.

Bahasan Akhlakul Karimah

Dalam makalah ini penulis hanya membahas masalah akhlakul karimah ialah akhlak yang baik, yang berupa semua akhlak yang harus dianut serta dimiliki oleh setiap orang. Dan yang termasuk akhlakul karimah ialah:

  1. Mengendalikan Nafsu

Nafsu merupakan salah satu organ rohani manusia disamping akal, nafsu sangat besar pengaruhnya dan sangat banyak mengeluarkan instruksi-instruksi pada anggota jasmanai untuk berbuat dan ini banyak tergantung bagaimana sikap manusia itu dalam menghadapi gejolak nafsunya.orang kuat sebenarnya bukanlah orang yang selalu menang dalam perkelahian fisik, tetapi adalah orang yang berkemampuan menguasai hawa nafsunya sewaktu ia arah.

  1. Ikhlas

Suatu pekerjaan dikatakan ikhlas kalau pekerjaan itu dilakukan semata-mata karena Allah, mengharap ridho dan pahala-Nya. Orang yang beramal tetapi tidak ikhlas, sangatlah celaka dan rugi, sebab amalnya menjadi percuma dan itu berarti amalnya tidak akan diterima oleh Allah. Yang dipegang oleh Allah sebenarnya apa yang menjadi niat dan setiap amal.

  1. Qona’ah

Qona’ah adalah menerima dengan rela apa yang ada atau merasa cukup dengan apa yang diiliki. Qona’ah bukanlah penggangguran. Qona’ah dalam pengertian yang luas sebenarnya mengandung tiga perkara yaitu: menerima dengan rela apa yang ada, memohon kepada Tuhan yang pantas di sekitar usaha, menerima dengan sabar ketentuan Tuhan bertawakal kepada Allah dan tidak tertarik oleh tipu daya dunia.[5]

 Ruang Lingkup Akhlakul Karimah

Misi utama Nabi Muhammad SAW dalam tugas suci kerasulannya adalah untuk menyempurnakan akhlak. Kita sebagai orang Islam, wajib melaksanakan moral keagamaan, dengan lain kita wajib menjadi orang yang berakhul karimah.

Untuk itu yang menjadi suri tauladan bagi kita adalah pribadi Rasullah SAW,  karena beliau merupakan contoh teladan bagi kita.

Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Ahzab: 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُوْلِ الله أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوالله وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرالله كَثِيْرًا. (الاحزاب : 21)

Artinya: “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (ramat Allah dan (Kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Q.S AL-Ahzab;21)

[6]

Dalam hubungannya dengan akhlak ini penulis akan menguraikan tentang:

Akhlak manusia kepada Allah SWT

Pada dasarnya, akhlak manusia kepada Allah itu adalah hendaknya anusia itu:

  • Beriman kepada allah
  • Beribadah atau mengabdi kepada-nya dengan tulus ikhlas.[7]

Beriman kepada Allah artinya mengakui, mempercayai, meyakini bahwa Allah itu ada, dan bersifat dengan segala sifat yang buruk dan maha suci dari sifat yang tercela.

Tetapi Iman kepada Allah, tidak hanya sekedar mempercayai akan adanya Allah saja, melainkan sekaligus diikuti juga dengan beribadah atau mengabdi kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari, yang manifesnya berupa mengamalkannya segala perintah Allah dan enjauhi segala larangan-Nya. Dan ini semua dikerjakan dengan tulus ikhlas terhadap qodho’ dan qodar Allah serta taubat dan bersyukur kepada Allah.[8]

Akhlak manusia terhadap sesama manusia

Allah menciptakan manusi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling kenal mengenala dan tidak bermusuhan. Dalam agama Islam segala sesuatu itu ada aturannya, baik terhadap penciptannya, terhadap diri sendiri, sesama maupun terhadap sesama lingkungan hidup.

Dalam hal ini yang menjadi sentral adalah manusia, karena manusia dalam kehidupannya tidak terlepas dari pertolongan dan keikutsertaan orang lain. Untuk itu Allah memberi aturan bagaimana hidup sesama orang lain, diantaranya adalah yang muda menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda, menyayangi sesama dan lain-lain.

Selain itu Allah juga memerintahkan kepada kita supaya berbuat baik terhadap kedua orang tua, kerabat, anak yatim, tetangga, orang miskin, teman sejawat, dan hamba sahaya. Sesuai dengan Firman  Allah (Q.S An-Nisa’; 36)

وَاعْبُدُوااللهَ وَلاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِى الْقُرْبَى وَالْيًَتمَى وَالْمَسكِيْنِ وَالْجَارِذِى الْقُرْبَى وَالْجَارِالْجُنْبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ وَمَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ, إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالاً فَخُوْرًا. (النساء : 36)

Artinya” Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetanngga, yang jauh, teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan dirinya” (Q.S An-Nisa’;36)[9]

Akhlak manusia dengan lingkungan hidup

Semua makluk Allah mengambil tempat,  waktu dan lingkungan alam sekitanya lebih-lebih makluk hidup. Untuk mempertahankan hidupnya ia sangat bergantung pada lam sekitarnya. Makluk hidup disini dapat digolongkan pada tumbuh-tumbuhan, binatang serta manusia itu sendiri. Manusia tidak hanya bergantung pada hidup satu tetapi ia tetap tergantung dan membutuhkan degan berada mati.

Lingkungan hidup tidak saja mendukung kehidupan dan kesejahteraan manusia saja tetapi juga makluk hidup yang lain. Oleh karena itu lingkungan harus tetap kita jaga kelestariannya, sehingga secara berkesinambungan tetap kita juga makluk hidup yang lain. Oleh karena itu lingkungan harus tetap kita jaga kelestariannya, sehingga secara berkesinambungan tetap dala fungsinya yaitu mendukung kehidupan.

Akhlak kepada lingkungan hidup dapat diwujudkan dalam bentuk perbuatan ikhsan yaitu dengan menjaga kelestariannya serta tidak merusak lingkungan hidup tersebut. Usaha-usaha pembangunan yang dilakukan juga harus memperhatikan kelestarian hidup. Jika kelestarian terancam maka kesejahteraan hidup manusia terancam pula.

Dalil Akhlakul Karimah

Hal ini sesuai dengan firman Allah Surat Ar-Rum: 41

ظَهَرَالْفَسَادُ فِىالْبَرِّوَالْبَحْرِبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِىالنَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِى عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ. (الروم : 41)

Artinya: “ telah nampak kerusakan didarat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar) (Q.S Ar-Rum;41)36

Membuat kerusakan didaratan, dilaut maupun di udara adalh perbuatan tercela secara moral kemanusiaan, karena dapat membahayakan kehidupan manusia disamping perbuatan terlarang dalam agama. Banyak ayat yang mencela dan melarng berbuat kerusakan seperti:

Firman Allah dalam  Surat Al-Baqarah :205, yaitu;

وَإِذَا تَوَلَّىسَعَى فِى اْلأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَاوَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ الْفَسَادَ. (البقرة : 205)

Artinya: “Dan apabila ia berpaling ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan dimuka bumi bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan allah tidak menyikai kebinasaan” (Q.S Al-Baqarah;205)[10]

Demikianlah keterangan diatas bahwa merusak, memusnahkan binatang dan segala perbuatan yang merusak lingkungan hidup merupakan larangan agama. Begitu juga sebaliknya kita harus mempunyai perasaan belas kasih untuk berbuat baik kepada sesama makluk Allah SWT dan kita harus menjaga kelestariannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya Akhlakul Karimah

Pada dasarnya faktor ini terdiri dari 2 macam yaitu;

  1. Faktor dari luar dirinya.
  2. Faktor dari dalam dirinya.

Kedua faktor di atas dirinci lebih jauh adalah:

  1. Faktor dari luar dirinya
    • Lingkungan
    • Rumah tangga dan sekolah
    • Pergaulan taman dan sahabat
    • Penguasa atau pemimpin
      1. Faktor dari dalam dirinya
    • Instik
    • Kepercayaan
    • Keiginan
    • Hati nurani
    • Hawa nafsu.[11]

Semua faktor-faktor tersebut menjadi satu sehingga dapat berperan dalam pembentukan akhlak yang mulia.  Segala tingkah yang dilakukan oleh siswa baik dalam keadaan sadar maupun tidak sadar berarti itulah yang lebih kuat dan lebih banyak memberi warna pada mental anak. Jika lebih kuat berada pada cirri-ciri yang terdapat pada akhlak yang mulia maka anak mempunyai akhlak yang mulia dan sebaliknya.

Statemen diatas itu bias terjadi karena pada hakekatnya manusia itu berubah, itu berarti bahwa pribadi manusia itu mudah dan dapat dipengaruhi oleh sesuatu. Karena itu ada usaha untuk mendidik pribadi, membentuk pribadi yang berarti adalah yang berusaha untuk memperbaiki kehidupan anak yang nampak kurang baik, sehingga menjadi anak yang berakhlakul  karimah.

Pribadi tiap orang itu tumbuh atas dua kekuata, yaitu kekuatan yang dibawa dari dalam  yang sudah ada sejak lahir dan faktor lingkungan. Namun yang jelas  faktor itu ikut serta membentuk pribadi seorang yang berada di lingkungan itu. Dengan demikian antara pribadi dan lingkungan saling berpengaruh.

Fungsi Akhlakul Karimah

Akhlak merupakan pokok-pokok kehidupan yang esensial,  yang diharuskan dalam agama dan agama sangat menghormati orang-orang yang memiliki akhlak yang baik. Oleh karena itu Islam dating untuk mengantarkan manusia ke jenjang kehidupan yang bergemilang, bahagia dan sejahtera,  melalui  berbagai segi keutamaan akhlak yang luhur.

Dalam kehidupan sehari-hari akhlakul karimah  merupakan faktor utama untuk tercapainya kemakmuran dan kesejahteraa dalam kehidupan masyarakat. Drs Djazuli” Akhlak dalam Islam” mengemukakan ada tiga keutamaan akhlakul karimah:

  1. Akhlak yang baik harus ditanamkan kepada manusia supaya manusia supaya manusia mempunyai kepercayaan yang teguh dan pendirian yang kuat. Sifat-sifat terpuji banyak dibicarakan dan dikaji dari sumber-sumber lain.
  2. Sifat-sifat terouji atau akhlak yang baik merupakan latihan bagi pembentukan sikap sehri-hari. Sifat-sifat ini banyak dibicarakan dan berhubungan dengan rukun Islam dan ibadah seperti: shalat, zakat, puasa, haji, sadaqah, tolong menolong dan sebagainya.
  3. Untuk mengatur hubungan yang baik anatara manusia dengan Allah dan manusia dengan manusia.[12] Dalam buku Pengantar Studi Akhlak Hasbi Ash Siddeqi mengatakan:

“Kepercayaan dan budi pekerti dalam pandangan al-Qur’an dihukum satu, dihukum setaraf dan sederajat”

Lantaran demikian Allah mencurahkan kehormatan pada akhlak dan memperbesar kedudukanya. Bahkan Allah memerintahkan seseorang muslim untuk memelihara akhlaknya dengan kata-kata yang pasti, terang dan jelas. Para muslimin tidak dibenarkan sedikit juga untuk mensia-siakan akhlaknya, bahkan tidak boleh memudah-mudahkannya.[13]

Aqidah tanpa akhlak bagaikan sebatang pohon yang tidak dijadikan tempat untuk berlindung disaat kepanasan dan tidak pula ada  buahnya yang dapat dipetik. Dan juga sebaliknya akhlak tanpa aqidah bagaikan bayang-bayang bagi benda dan tidak tetap dan selalu bergerak. Oleh karena itu Islam memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan akhlak dalam kaitannya dengan hal ini Rasulullah menegaskan bahwa kesempurnaan imam seseorang terletak pada kesempurnaan akhlak.

Pembinaan Akhlakul Karimah di Sekolah

Manusia diciptakan oleh  Allah sebagai makluk yang lebih sempurna bila dibandingkan dengan makluk hidup lainnya. Dalam perkembangannya manusia proses perubahan baik jasmani maupun rohani. Perkembangan dari masing-masing individu itu tidak sama, hal ini disebabkan karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi. Sehubungan denagan hal ini Zakiyah Daradjat, menyatakan: “ Kalau ingin mengetahui pembinaan moral anak sesuai dengan kehendak agama, maka ketiga pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) harus bekerja sama dan berjalan seirama, tidak bertentangan satu sama lain.[14]

Dibawah ini beberapa peranan pendidikan agama Islam dalam pembinaan akhlak adalah sebagai berikut:

Peranan Peserta Didik

Faktor yang mendasari dari pendidikan (pembinaan) adalah peserta didik (peserta yang dibina). Oleh karena itu pembinaan tanpa adanya peserta yang dibina tidak akan mungkin bisa terlaksana. Peserta didik (peserta yang dibina) dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya memerlukan bantuan orang lain (pembinaan) untuk membimbing sesuai dengan kebutuhan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.

Tiap pendidik harus mampu memahami anak atau peserta didiknya. Sehingga menghasilkan pemberian bantuan yang tepat dan berdaya guna, akan tetapi mereka tidak lepas dari pengarh dimana ia mendapatkan bantuan dan bimbingan. Ini berarti pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dipengaruhi oleh lingkungan yang mengelilinginya yaitu lingkungan kelurga, sekolah dan masyarakat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembinaan akhlak adalah selain karena adanya dinamika pertumbuhan dan perkembanga pada anak, ada juga faktor heriditas yaitu faktor pembawaan, adalah sifat-sifat kecenderungan yang ada pada diri anusia sejak lahir. Jadi dalam hal ini perkembangan perilaku anak dipengaruhi oleh faktor keturunan.

Peranan Pendidik

Pendidik adalah suatu faktor pendidikan yang sangat penting, karena pendidik itulah yang akan bertanggung jawab dalam pembentukkan pribadi anak didik. Adapun tanggung jawab  pendidik enurut Zuhairini dkk, pendidik bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan ateri pelajaran kepada murid, tetapi juga membentuk kepribadian seorang peserta didik sehingga akhirnya peserta didik memilki kepribadian yang utama.42

Seorang pendidik sebenarnya mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan, lebih-lebih jika seorang pendidik itu seorang guru agama, dia mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dan berat daripada pendidik pada umumnya. Selain harus mampu mengantarkan peserta didik kearah pendidikan, dia juga bertanggung jawab membina anak tersebut sesuai dengan ajaran agama Islam. Dan dia mempunyai tanggung jawab yang besar kepada Allah SWT.

Adapun tindakan mendidik ini hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa yang merasa tanggung jawab untuk mendidik. Dalam hal ini bukan hanya guru saja yang menjadi seorang pendidik, tapi juga orang tua atau masyarakat bisa dikatakan pendidik (pembina) diluar lingkungan sekolah pendidikan non formal.

Pada dasarnya orang tua juga mempunyai peranan dalam mendidik anaknya tapi kebanyakan dari ereka masih belum mampu mendidik anak-anaknya sesuai dengan tujuan pendidikan. Dengan demikian gurulah yang mempunyai tanggung jawab untuk membentuk pribadi anak dan menyampaikan pelajaran dengan baik. Tapi meskipun demikian orang tua masih mempunyai kewajiban untuk mendidik dan membina anaknya.

Pendapat Ahli tentang Akhlakul Karimah

Meskipun sudah tugasnya, mendidik adalah tugas yang sangat berat. Tugas ini menuntut kesediaan dan kerelaan seorang untuk menerima tanggung jawab untuk merubah seseorang kearah yang lebih baik itu tidaklah mudah. Hal itu memerlukan pengorbanan dan perjuangan yang cukup besar, apabila melihat realita sekarang kemajuan Iptek semakin canggih dan negara berkembang dengan pesatnya. Karena itu kreatifitas seorang guru dalam menjalankan tugasnya sangat diperlukan.

Pengertian Akhlakul Karimah Lengkap Teori dari Ahli

Menurut Ahmad D. Marimba dalam buku Filsafat Pendidikan Islam karangan Samsul Nizar  peranan  pendidik dalam pendidikan Islam adalah membimbing dan mengenal kebutuhan atau kesanggupan peserta didik, menciptakan situasi yang kondusif bagi berlangsungnya proses kependidikan, menambah dan mengembangkan pengetahuan yang dimiliki guna ditransformasikan kepada peseta didik, serta senantiasa membuka diri terhadap seluruh keleahan atau kekurangannya. Sementara dalam batasan lain, peranan pendidik dapat dijabarkan dalam beberapa pokok pikiran yaitu:

  1. Sebagai pengajar (instruksional) yang bertugas merencanakan program pengajaran, melaksanakan program yang disusun, dan akhirnya dengan pelaksanaan penelitian setelah program tersebut dilaksanakan.
  2. Sebagai pendidik (edukator) yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan kepribadian sempurna (insan kamil), seiring dengan tujuan penciptaan-Nya.
  3. Sebagai pemimpin (managerial) yang memimpin, mengendalikan diri (baik diri sendiri, peserta didik, maupun masyarakat), upaya pengarahan pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan, dan partisipasi atas program yang dilakukan.43

Peranan lingkungan

Lingkungan merupakan faktor yang sangat penting bagi kelangsungan pembinaan akhlak. Karena itu pengaruh lingkungan sangat menentukanpembentukan akhlak dan pembentukkan pribadi, bila lingkungan itu baik, kemungkinan besar anak terdorong untuk selalu berbuat baik, sehingga akan memberikan pengaruh yang positif terhadap perkembangannya, begitu juga sebaliknya.

Adapun lingkungan yang  mempengaruhi pembinaan akhlak:

Lingkungan Keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terbentuk berdasarkan sukarela dan cinta asasi antara dua subjek manusia (suami/istri). Keluarga dengan cinta kasih dan pengabdian yang luhur membina kehidupan sang anak.44

Orang tua merupakan pendidik yang utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak menerima pendidikan untuk pertaa kalinya. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.

Program pendidikan keluarga meliputi seluruh kewajiban hidup beragama dimulai dari aqiqah, syari’ah, ibadah, dan akhlak. Yang diajarkan baik secara formal, diberitahukan, dan diceritakan orang tua maupun dengan proses imitasi, sugesti dan trasforasi yang tidak sengaja diajarkan oleh orang tua itu sendiri kepada anggota yang lainy. Sehingga untuk menjaga kemungkinan adanya kesalahan didik, aka orang tua berkewajiban mempelajari, eehami dan mengaalkan terlebih dahulu secara baik dan sesuai dengan ketentuan.

Lingkungan Sekolah

Sekolah merupakan lingkungan kedua tempat anak berlatih dan menumbuh kembangkan kepribadiaanya., setelah emperoleh pengalaman hidup (pendidikan) dalam kelurga.

Sekolah memegang peranan penting dalam meneruskan pembinaan yang telah diletakkan dasar-dasarnya dalam lingkungan keluarga. Keadaan disekolah sangat mempengaruhi perkembangan anak didik karena itu sekolah merupakan wadah untuk memperoleh pendidikan (pembinaan) secara formal dan juga untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak didik.

Lingkungan Masysrakat

Masyarakat dapat diartikan sebagai suatu bentuk tata kehidupan sosial dengan tata nilai dan tata budaya. Secara sederhana masyarakat adalah sebagai kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kebudayaan dan agama. Setiap masyarakat mempunyai cita-cita, peraturan-peraturan dan sistem kekuasaan tertentu.

Lingkungan pendidikan menunjuk kepada situasi dan kondisi yang memengelilingi dan mempunyai pengaruh terhadap perkembangan pribadi. Lingkungan pendidikan dibagi menjadi dua:

  1. Lingkungan sekitar, yaitu segala keadaan; benda, orang, serta kejadian atau peristiwa disekeliling peserta didik. Meskipun tidak dirancang sebagai alat pendidikan, keadaan-keadaan tersebt mempunyai pengaruh terhadap pendidikan, baik positif maupun negatif.
  2. Pusat-pusat pendidikan, yaitu tempat, organisasi, dan kumpulan manusia yang dirancang sebagai sarana pendidikan.45

Masyarakat merupakan lingkungan ketiga dalam mengembangkan aktivitas hidup anak. Disamping dipengaruhi oleh faktor pembawaan, perilaku seseorang anak juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan.  Masyarakat turut memikul tanggung jawab dalam pendidikan. Masyarakat besar pengaruhnya dalam memberi arah terhadap pendidikan anak, terutama para pemimpin masyarakat atau penguasa yang ada di dalamnya.  Pemimpin masyarakat muslim tentu saja menghendaki agar setiap masyarakatnya menjadi anggota yang taat dan patuh menjalankan agamanya.

Dengan demikian sangatlah jelas, bahwa lingkungan masyarakat, akan memberikan pengaruh yang positif dan negaif terhadap perilaku anak.  Lingkungan dikatakan positip jika lingkungan disekitar lingkungan anak tersebut tinggal dapat memberi motivasi maupun rangsangan kepada anak untuk melakukan hal-hal yang baik dan berguna bagi kehidupan yang bersama. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dikatakan negatif jika keadaan lingkungan sekitar anak tersebut tinggal tidak bisa memberikan dorongan atau pengaruh yang negatif dan merugikan anak, baik yang merugikan bagi pendidikan, perkembangan anak itu sendiri (perilaku dan sebagainya) maupun yang merugikan bagi kehidupan bersama.

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan agama pada anak mutlak diperlukan, sangat penting dalam membentuk dan merubah tingkah laku (akhlak) yang jelek dan tercela menjadi baik dan terpuji (akhlakul karimah) yang sesuai dengan garis-garis ajaran syari’ah agama Islam.

Pendidikan agama Islam menjadi objek studi, yang lebih penting adalah keteladan dan penghayatan serta pengalaman setiap hari, karena pendidikan agama tidakhanya berfungsi sebagai konsumsi otak, melainkan juga untuk konsumsi hati sebagai penuntun akhlak. Sehingga pendidikan agama Islam dalam suatu sekolah sangat penting untuk membina  dan menyempurnakan pertumbuhan anak didik.

Referensi Akhlakul Karimah

[1] Asmaran As, Pengantar Studi Akhlak, Rajawali Pres, Jakarta, 1992, hlm; 1

[2] Ibid hal 2

[3] Humaidi Tatapangarsa, Pengantar Kuliah Akhlak, PT Bina Ilmu, Surabaya, 1984, hlm 16

[4] Ahmad Mu’adz Haqqi, Berhias 40 Akhlak Mulia, Cahaya Tauhid Press, Malang. 2003 hlm;20

[5] Humaidi Tatapangarsa, Akhlak Yang Mulia, Bina Ilmu, Surabaya, 1990, hlm:53

32 Departeen Agama RI, Op-cit hlm;670

[6] Departeen Agama RI, Op-cit hlm;670

[7] Humaidi Tatapangarsa, Op-cit, hlm; 20

[8] Humaidi Tatapangarsa, Op-cit,hlm;22

[9] Departemen agama RI, Op-cit. hlm;124

36 Departemen Agama RI, Op-cit,hlm;647

[10] Ibid, hlm;627

[11] Djadmika Rahmat, Sistem Etika Islam(Akhlak Mulia, Pustaka Islami, Surabaya, 1987. hlm;73)

[12] Djazuli,Akhlak Dalam Islam, Tunggal Murni, Malang, hlm;2

[13] Asmaran As, Op-cit, hlm;13

[14] Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama,Bulan Bintang,Bandung. Hlm; 62

42 Zuhairini dkk, Metodologi Pendidikan Agama I, Ramadhani, Solo, 1993, hlm; 27

43 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Ciputat Pers, Jakarta;2002,hlm;44

44 Zakiyah Daradjat Dkk, Op-cit, hlm;63

45 Hery Noer aly, Ilmu Pendidikan Islam, PT logos Wacana Ilmu, Jakarta.1999;hlm;209