PENGERTIAN PRINSIP DAN PROSEDUR EVALUASI HASIL BELAJAR

 
PENGERTIAN PRINSIP DAN PROSEDUR EVALUASI HASIL BELAJAR, PENGERTIAN PRINSIP BELAJAR, PENGERTIAN PROSEDUR EVALUASI, PENGERTIAN BELAJAR, PENTINGNYA EVALUASI BELAJAR, FORMAT EVALUASI BELAJAR, 

Prinsip Evaluasi Hasil Belajar
Prinsip merupakan suatu keadaan atau sifat yang sudah menjadi suatu ketetapan dalam sesuatu hal. Oleh karena itu prinsip merupakan suatu hal yang telah ditentukan, maka dalam evaluasi hasil belajar perlu mengikuti prinsip-prinsip sebagai jalur evaluasi yang harus dilalui tidak boleh melenceng dari prinsip yang telah ditetapkan.
Dalam melakukan evaluasi hasil belajar, “ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan diterapkan, apabila tidak dipadukan dengan prinsip-prinsip penunjangnya, maka hasil evaluasipun akan kurang dari yang diharapkan.” Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
Keterpaduan
Evaluasi merupakan komponen integral dalam program pengajaran di samping tujuan instruksional dan materi serta metode pengajaran. “Tujuan instruksional, materi dan metode pengajaran serta evaluasi merupakan tiga kesatuan terpadu yang tidak boleh dipisahkan.” Karena itu, perencanaan evaluasi harus sudah ditetapkan pada waktu penyusunan satuan pengajaran sehingga dapat disesuaikan secara harmonis dengan tujuan istruksional dan materi pengajaran yang hendak disajikan.
Keterlibatan Siswa
Prinsip ini berkaitan erat dengan metode belajar CBSA (cara belajar siswa aktif) yang menuntut keterlibatan siswa secara aktif, siswa mutlak. “Untuk dapat mengetahui secara aktif siswa berhasil dalam kegiatan belajar mengajar yang dijalaninya secara aktif, siswa membutuhkan evaluasi.” Dengan demikian, evaluasi bagi siswa merupakan kebutuhkan bukan suatu yang ingin dihindari.
Koherensi
Prinsip koherensi yang dimaksud adalah evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang sudah disajikan dan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur tidak dapat dibenarkan menyusun alat evaluasi hasil belajar atau evaluasi pencapaian belajar yang mengukur bahan yang belum disajikan dalam kegiatan belajar megajar.
Pedagogik
Di samping sebagai alat penilaian hasil/pencapaian belajar, evaluasi juga perlu diterapkan sebagai perbaikan sikap dan tingkah laku ditinjau dari segi pedagogik. Hasilnya evaluasi hendaknya dapat dipakai sebagai alat motifasi untuk siswa dalam kegiatan belajarnya.
Menurut Prof. Dr. Anas Sudijono “prinsi-prinsip hasil evaluasi belajar baru dinyatakan terlaksanakn dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip dasar antara lain sebagai berikut.”
Prinsip keseluruhan
Prinsip keseluruhan atau prinsip menyeluruh juga dikenal dengan istilah prinsip komprehensif, yang dimaksud “prinsip komprehensif bahwa evaluasi belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi tersebut dilaksanakan secara utuh atau menyeluruh.” Dengan kata lain evaluasi hasil belajar dapat mencakup berbagai aspek yang dapat menggambarkan perkembangan atau perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri peserta didik sebagai makhluk hidup dan benda mati. Dalam hubungan ini, evaluasi hasil belajar di samping dapat menggungkapkan aspek proses berpikir, juga dapat mengungkap aspek kewajiban lainnya, yaitu aspek nilai atau sikap dan aspek keterampilan yang melekat pada diri masing-masing indiviidu peserta didik.
Prinsip Kesinambungan
Prinsip kesinambungan juga dikenal dengan istilah prinsip kontinuitas (continuity) dengan prinsip kesanambunagn dimaksudkan di sini bahwa evaluasi hasil belajar yang baik adalah evaluasi belajar yang dilaksnakann secara teratur dan sambung menyambung dari waktu ke waktu.
Evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan secara berkesinambungan itu juga dimaksudkan agar pihak evaluator (guru, dosen, dll) dapat memperoleh kepastian dan kemantapan dalam menentukan langkah-langkah atau merumuskan kebijaksanaan yang perlu diambil untuk masa-masa selanjutnya, agar tujuan pengajar sebagaimana telah dirumuskan pada tujuan instruksional khusus (TIK) dapat tercapai yang sebaik-baiknya.
Prinsip Obyektivitas
Prinsip Obyektivitas mengandung makna, bahwa “evaluasi hasil belajar dapat dinyatakan  evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari faktor-faktor yang sifatnya subyektif.”
Sehubungan dengan itu dalam pelaksanaan evaluasi hasil belajar, seorang evaluator harus senantiasa berpikir dan bertindak wajar menurut keadaan yang senyatanya, tidak dicampuri oleh kepentingan-kepentingan yang bersifat subyektif. Prinsip ketiga ini sangat penting, sebab apabila dalam  melakukan evaluasi unsur-unsur subyektif menyelinap masuk ke dalamnya, akan menodai evaluasi itu sendiri. Ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Suharsimi Arikunto dalam bukunya.
Hubungan antar tujuan dengan KBM kegiatan belajar mengajar yang dirancang dalam bentuk rencana mengajar disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak mencapai. Dengan demikian, anak panah yang menunjukkan hubungan antar keduanya mengarah pada tujuan dengan makna bahwa KBM mengacu pada tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan ke KBM, menunjukkan langkah dari tujuan dilanjutkan pemikirannya ke KBM.
Hubungan antara tujuan dengan evaluasi, evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauhmana tujuan sudah tercapai. Dengan makna demikain maka anak panah berasal dari evaluasi menunjukkan ketujuan. Dilain sisi, jika dilihat dari langkah menyusun alat evaluasi ia mengacu pada tujuan yang sudah dirumuskan.
Hubungan antara KBM dengan evaluasi, seperti yang telah disebutkan dalam nomor satu KBM dirancang dan disusun dengan mengacuh pada tujuan yang sudah dirumuskan. Telah disebutkan pula dalam nomor dua bahwa alat evaluasi disusun dengan mengacuh pada tujuan. Selain mengacuh pada tujuan, evaluasi juga harus mengacuh atau disesuaikan dengan KBM yang dilaksanakan.
Prosedur evaluasi hasil belajar
Prosedur merupakan jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu. Pekerjaan mengevaluasi memiliki prosedur tersendiri, meskipun ditekankan bahwa pekerjaan mengevaluasi itu lebih tepat dipandang sebagai proses yang kontinu.
Pengetahuan tentang prosedur ini dapat mengetahui tentang fungsi dalam keseluruhan proses evaluasi akan memungkinkan kita memperoleh gambaran yang cukup jelas tentang sitematik pekerjaan evaluasi pada umumnya. Dan kalau bayangan tentang sistematik rangka pekerjaan evaluasi ini sudah dimiliki akan lebih memudahkan untuk membangun sistem evaluasi yang dapat dipertanggung jawabkan dalam lingkungan pendidikan tertentu atau untuk menilai dan merevisi sistem evaluasi yang telah berlaku dalam suatu lingkungan pendidikan tertentu bila diperlukan.”
Mengingat pentingnya penilaian dalam menentukan kualitas pendidikan maka upaya merencanakan dan melaksanakan penilaiannya perlu memperhatikan beberapa prinsip dan prosedur hasil evaluasi belajar. Adapun prinsip penilaian yang dimaksud antara lain adalah sebagai berikut:
Dalam penilaian hasil belajar hendaknya dirancang sedemikian rupa sehingga jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian dan intepretasi penilaian. Sebagaimana patokan atau rambu-rambu merancang penilaian hasil belajar adalah kurikulum yang berlaku dan buku pelajaran yang digunakan.
Penilaian hasil belajar hendaknya menjadi bagian integral dari proses belajar mengajar. Artinya penilaian senantiasa pada setiap saat proses belajar mengajar sehingga pelaksanaannya berkesinambungan. “Tiada proses belajar mengajar tanpa penilaian” hendaknya dijadikan semboyan bagi setiap guru. Prinsip ini mengisyaratkan pentingnya penilaian formatif sehingga dapat bermanfaat baik bagi siswa maupun guru.
Agar diperoleh hasil belajar yang obyektif dalam pengertian mengembangkan prestasi dan kemampuan siswa sebagaimana adanya, penilaian harus menggunakan alat penilaian yang bersifat komprehensif. Dengan sifat komprehenshif dimaksudkan bagi atau abilitas yang dinilaianya tidak hanya aspek kognitif tetapi juga aspek afektif dan psikomotoris. Demikian pula dalam menilai aspek kognitif harus mencakup semua aspek, yakni pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sistesis dan evaluasi secara seimbang.
Penilaian hasil belajar hendaknya diikuti dengan tindak lanjutnya. Data hasil penilaian sangat bermanfaat bagi guru maupun bagi siswa. Oleh karena itu, perlu dicatat secara teratur dalam catatan khusus mengenai kemajuan siswa. Demikian juga data hasil penilaian harus dapat ditafsirkan sehingga guru dapat memahami para siswanya terutama prestasi dan kemampuan yang dimilikinya. Bahkan jika mungkin, guru dapat meramalkan prestasi siswa pada masa mendatang. Hasil penilaian juga hendaknya dijadikan bahan untuk menyempurnakan program pengajaran, memperbaiki kelemahan-kelemahan pengajaran, dan memberikan bimbingan belajar kepada siswa yang memerlukannya.”
Ada berapa langkah yang dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan proses penilaian hasil belajar yakni:
1).  Merumuskan atau mempertegas tujuan pengajaran
2).  Mengkaji kembali materi pengajaran berdasarkan kurikulum dan silabus mata pelajaran
3).  Menyusun alat penilaian, baik tes maupun non tes, yang cocok digunakan dalam menilai jenis-jenis tingkah laku yang tergambar dalam tujuan pengajaran.
4). Menggunakan hasil penilaian sesuai dengan penilaian tersebut, yakni untuk kepentingan pendeskripsian kemampuan siswa, kepentingan perbaikan pengajaran, kepentingan bimbingan belajar, maupun kepentingan laporan pertanggung jawaban pendidikan.
DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *