Pengertian Pesantren, Asal-usul Pesantren, dan Teori Penting Mengenai Pesantren di Indonesia

Pengertian Pesantren, Asal-usul Pesantren, dan Teori Penting Mengenai Pesantren di Indonesia – Sejak paruh abad ke 20 hingga hari ini, sosok dan dunia pesantren telah menarik perhatian para akademisi untuk dijadikan bahan studi dan fokus telaah ilmiahnya dan telah terbit sejumlah karya tulis-karya tulis tentang pesantren di kaji dari berbagai sudutnya. Berkaiatan dengan fokus kajian penelitian ini yakni tentang pola pendidikan pesantren, berikut ini penulis paparkan beberapa studi lain sebgai acuan antara lain :

Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia bermula dari sistem pesantren di surau-suaru kecil, kemudian bergeser ke sistem madrasah dan akhirnya sekolah, perubahan bentuk dan isi pendidikan Islam tersebut tidak lepas dari dari tuntutan perkembangan zaman yang dihadapinya. Namun proses perubahan ini bukan suatu peristiwa yang lancar dan mulus tanpa perselisihan pendapat di antara mereka yang terlibat didalamnya.

Latar belakang politik pendidikan kolonial ikut menentukan ketegangan perubahan dari tradisi yang sangant kukuh ke cara modern yang mendesak. Di sini karel berupaya untuk menuntut dinamika sistem pendidikan Islam di Indonesia mulai dari pesantren yang kemudian bergeser ke sistem madrasah dan akhirnya menjadi sekolah, dengan mengadakan penelitian ke berbagai pesantren di berbagai pesantren di Sumatera dan Jawa.

Zamaksari Dhofir dalam desertasinya yang berjudul The Pesantren Tradition : A Study the Role of the Kiai in Maintenance of the Traditional Idiologi of Islam in Java (1980) yang telah di terbitkan oleh LP3ES pada tahun 1982 dengan judul Tradisi Pesantren : Sudi tentang Pandamgan Hidup Kyai. Membahas secara rinci peranan kyai dalam memelihara dan mengembangkan paham Islam tradisional di Jawa[1] yang disebutnya sebagai tradisi pesantren.

Dalam tulisannya Dhofir juga mengungkapkan adanya berbagai macam jaringan (net work) yang sengaja diciptakan oleh para kyai sebagai upaya  mempertahankan tradisi pesantren tersebut. Jaringan  itu antara lain berupa jaringan transmisi ilmu sehingga membentuk geneologi intelektual, ataupun jaringan kekerabatan melalui sistem perkawinan yang endogamous. Hal-hal demikian di jelaskan setelah berlebih dahulu menguraikan tentang pola umum pendidikan pesantren dan elemen-elemen pokok sebuah pesantren yang terdiri dari pondok, masjid, pengajaran kitab-kitab klasik, santri dan kyai.

Hal ini dapat membantu kita mengenal anatomi kehidupan pesantren yang sangat rumit. Dalam kajiannya ini Dhofir meneliti dua pesantren yang berbeda sistem maupun kelembagaannya yaitu pesantren Tegalsari di Kabupaten Semarang  Jawa Tengah dan pesantren Tebuireng di Jombang Jawa Timur.

Mastuhu yang yang berjudul  Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. Dalam kajian ini Mastuhu berusaha meningkatkan gerak perjuangan pesantren didalam memantapkan identitas dan kehadirannya ditengah-tengah kehidupan bangsa yang sedang membangun ini. Menurutnya, pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam harus dapat menjadi salah satu  pusat studi  pembaharuan pemikiran Islam.

Untuk itu, ia berusaha menemukan butir-butir positif dari sistem pendidikan pesantren  yang kiranya berlu dikembangkan dalam sistem pendidikan nasional, dan butir-butir negatif yang kiranya tidak perlu lagi dikembangkan karena tidak  sesuai lagi dengan tantangan zamannya, serta butir-butrir mana dari sistem pendidikan pesantren yang sekiranya perlu di perbaiki lebih dahulu sebelun dikembangkan dalam sistem pendidikan nasional dan system pendidikan pesantren dalam menyongsong masa depannya.[2]

Dengan meneliti 6 pesantren, ia menggunakan pendidikan sosiologis-antropologis dan fenomenologis dengan harapan dapat menembus tabir rahasia nilai-nilai kehidupan pesantren sehingga dapat mengembangkannya dalam sistem pendidikan nasional.

Namun dalam kajian ini tidak di singgung pengaruh sistem pendidikan dalam sejarah perjalanan pendidikan nasional. Padahal, sebagai mana di katakana oleh Ki Hajar Dewantoro Bapak Pendidikan Nasional kita bahwa sistem pondok dan asrama itulah sistem pendidikan nasional.[3] Juga pemikiran Soetomo salah seorang cendikiawan sebelum kemerdekaan yang menganjurkan agar azas-azas sistem pendidikan pesantren di gunakan sebagai dasar pembangunan pendidikan nasional Indonesia.[4]

Dalam sejarah pertuumbuhan dan perkembangan pendidikan di Indonesia, agaknya tidak dapat dipungkiri bahwa pesantren telah menjadi semacam local genous. Dikalangan umat Islam sendiri pesentren sedemikian jauh telah dianggap sebagai model institusi pendidikan yang memiliki keunggulan baik dari sisi tradisi keilmuannya maupun pada sisi transmisi dan internalisasi moralitas umat. Hal inilah yang perlu di kaji lebih lanjut.

Supriyadi dalam tesisnya yang berjudul, Strategi Peningkatan Mutu pendidikan dengan metode Pondok pesantren. (Studi Kritis tentang Manajemen di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Sunan Gunung Jati Kismantoro Wonogiri) mengatakan bahwa Pesantren mempunyai perbedaa-perbedaan strategi dan metode dalam meningkatkan mutu pendidikannya dan sekaligus memepertahankan sebagaimana lembaga pendidikan dalam era globalisasi.[5]

Dari hasil eksplorasi penulis terhadap  berbagai sumber dan bahan pustaka tidak atau belum menjumpai pembahasan yang spesifik sama dengan permasalahan yang akan di sajikan dalam penelitian ini,  yaitu dengan pendekatan historis sosiologis-fenomenologis penulis akan berusaha mengkaji nilai-nilai fundamental pendidikan pesantren, yaitu Pondok Pesantren  Al-Muayyad Surakarta termasuk pesantren tradisional yang lumayan tua yang tidak kecil peranannya dalam ikut serta mencerdaskan umat serta menjadikannya sebagai sebuah alternatif sistem pendidikan Islam yang dapat terwujudnya generasi unggul.

[1] Yang dimaksud dengan Islam tradisional ialah Islam yang masih terikat kuat dengan pikiran-pikiran ulama ahli fikih, hadits, tafsir, tauhid dan tasawuf yang hidup antara abad ke-7 sampai dengan abad ke-13. Lihat Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren : Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, cet I (Jakarta : LP3ES, 1982), hal.1

[2] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Seri XX, (Jakarta , INIS, 1994), hal. 58

[3] Ki Hajar Dewantoro, Pendidikan, bagian Pertama, cet 2, (Yogyakarta : Majlis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1977) hal.370

[4] Malik Fajar, “ Sintesa Antara Perguruan  Tinggi dan Pesantren : Upaya Menghadirkan wacana pendidikan Alternatif, dalam Nurcholis, op.cit, hal.112

[5] Supriyadi, Strategi Peningkatan Mutu pendidikan dengan metode Pondok pesantren. (Studi Kritis tentang Manajemen di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Sunan Gunung Jati Kismantoro Wonogiri), Tesis MSI, Yogyakarta :UII, 2005, hal. 89

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *