Pengertian Pendidikan Integratif di Pondok Pesantren yang Penting untuk Lahirkan Ulama Ulung 

Pengertian Pendidikan Integratif di Pondok Pesantren yang Penting untuk Lahirkan Ulama Ulung. Pondok Pesantren memiliki sistem pendidikan tersendiri yang jarang orang ketahui. Salah satunya adalah pendidikan integratif. Seperti apa pendidikan ini?

Pendidikan Integratif adalah sebuah konsep pendidikan dengan mengkolaborasikan antara pendidikan formal, non-formal dan infonnal. Sistem pendidikan seperti ini yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta.

Dengan kyai, guru dan santri yang hidup dalam satu kampus 24 jam sehari, memungkinkan untuk dapat menerapkan sekaligus mandat pendidikan yang dibebankan persekolahan, perguruan, organisasi kepemudaan, keluarga dan tempat-tempat ibadah.

Dengan demikian kyai    sekaligus berfungsi sebagai pendidik, guru, orang tua, pembina dan pemimpin kegiatan-kegiatan keagamaan santri-santrinya. Antara kyai dan santri pola hubungannya seperti orang tua dan anak, sehingga sampai sekarang tidak pernah ada istilah mantan kyai atau mantan guru dan tidak ada sejarahnya santri mendemo kyai, yang ada hanyalah mengagumi dan menghormati dengan tulus, tidak hanya ketika mereka menuntut ilmu kepadanya tetapi setelah pulang ke rumah masing-masing rasa hormat dan kagum itu tetap bersemayam di hati para santri.

Dengan sistem asrama (pondok), kebersamaan antara kyai, guru dan santri dapat berlangsung terus menerus dan hubungan mereka menjadi semakin luas. Dengan keleluasaan ini dan frekuensi kontak yang lebih intens, segala persoalan segera akan mendapatkan perhatian dan pemecahannya.

Perjumpaan Kyai, guru dan santri tidak hanya dibatasi oleh jam-jam belajar di kelas. Kondisi ini sangat balk bagi proses pembentukan kepribadian santri. Apabila kondisi seperti ini dipergunakan secara efektif, maka semakin besar peluang untuk dapat mencapai tujuan akhir pendidikan, yaitu mengaktualisasikan segala potensi yang dikaruniakan Tuhan sebagai wujud penghambaan kepada Sang Khaliq.

Suasana pendidikan seperti diuraikan diatas tidak terdapat dalam pusat­pusat pendidikan lain, baik dalam sistem persekolahan, perguruan, kepemudaan dan keluarga. Siswa-siswi sekolah umum, misalnya, akan mengatakan “itu dulu guru saya” ketika mereka sudah tidak diajar oleh guru tersebut. Hubungan mereka hanya sebatas luasnya gedung sekolah, atau bahkan hanya seluas ruang kelas.

Karena kebanyakan sekolah hanya memberikan pengajaran, hanya Transfer of knowledge saja dan tidak diikuti oleh Transfer of values. Hubungan itu hanya didasarkan pada profesi dan materi.