Pengertian Pendidikan Agama Islam Menurut Tokoh Islam dan Menurut Agama

Pengertian Pendidikan Agama Islam Menurut Tokoh Islam dan Menurut Agama – Pendidikan telah di identifikasikan secara berbeda-beda oleh berbagai kalangan, yang banyak dipengaruhi oleh pandangan dunia (welthanchaung) masing-masing. Namun pada dasarnya, semua pandangan yang berbeda, itu bertemu dalam semacam kesimpulan awal bahwa pendidikan merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untk menjalankan kehidiupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara efektif dan efesien.

Dalam Konferensi Internasional Pendidikan Islam ke -1 di Makkah tahun 1977 disebutkan bahwa pendidikan mencakup tiga  pengertian sekaligus, yakni ta’lim, ta’dib dan tarbiyah.[1] Jadi ada tiga istilah yang diartikan dengan pendidikan. Menurut ‘Abd al Fatah Jalal, istilah ta’lim lebih tepat untuk menunjuk konsep pendidikan menurut Al Qur’an, karena istilah tersebut mengandung makna lebih luas dari pada tarbiyah.[2]

Sedangkan  Syed Muhammad Al Naquid al Attas berpendapat bahwa istilah ta’dib lebih tepat untuk menunjuk pengertian pendidikan. Konsep ta’dib mencakup integrasi antara ilmu dan amal sekaligus.[3] Adapun istilah tarbiyah berasal dari tiga kata yaitu : pertama kata robba-yarbu yang berarti zada wa nama atau (bertambah dan tumbuh), seperti terdapat dalam Al Qur’an Surat Ar Rum 39. kedua, kata robiya-yarubbu dengan mengikuti wazan mada yamuddu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga dan memelihara. Ketiga, merujuk pada mufrodad al fadz al Quran,[4] kata tarbiyah merupakan akar kata robb yang berarti mengembangkan sesuatu.[5]

Kata tarbiyah itu sendiri mengandung empat unsur nilai, yaitu: 1) menjaga dan memelihara fitrah manuasia: 2)  mengembangkan seluruh potensi; 30 mengarahkan seluruh fitrah dan potensi menuju kesempurnaan ; 40 dilaksanakan secara bertahap. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa tarbiyah (pendidikan) merupakan usaha mengembangkan seluruh potensi anak didik secara bertahap menuju kesempuraan.

Pengertian tentang pendidikan yang lebih rinci sesuai dengan konteks sekarang, diberikan oleh Zarkowi Soejati sebagaimana dikutip oleh A.Malik Fajar bahwa pendidikan Islam mempunyai pengertian : pertama,  jenis pendidikan yang pendirian dan penyelengaraan di dorong oleh hasrat dan semangat cita-cita untuk  mengejawantahkan nilai-nilai Islam baik yang tercermin dalam nama lembaga maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakannya.

Disisi lain, kata Islam di tempatkan sebagai sumber nilai yang akan di wujudkan dalam seluruh kegiatan pendidikannya. Kedua, jenis pendidikan yang memberikan perhatian dan sekaligus menjadikan ajaran Islam sebagai pengetahuan untuk program studi yang diselenggarakannya. Disini, kata Islam ditempatkan sebagai bidang studi, sebagai ilmu dan diperlakukan seperti ilmu yang lain. Ketiga, jenis pendidikan yang mencakup kedua pengertian itu. Disini, kata Islam ditempatkan sebagai sumber nilai, juga sebagai bidang studi yang ditawarkan lewat program studi.[6]

Dari Pengertian ini kiranya bisa lebih dipahami bahwa keberadaan pendidikan Islam tidak sekedar menyangkut persoalan ciri kas, melainklan lebih mendasar lagi, yaitu tujuan yang diidamkan dan di yakini sebagai yang paling ideal. Atau dalam pembahasan filsafatnya diistilahkan sebagai “insan kamil“ atau manusia paripurna. Hal ini dapat terwujud dengan upaya mengembangkan kepribadian manusia yang bersifat menyeluruh secara harmonis berdasarkan potensi psikologi dan fisiologis.

Perumusan tujuan ini menjadi penting artinya bagi proses pendidikan, karena dengan adannya tujuan yang jelas dan tepat, maka arah proses pendidikan ini akan jelas dan tepat pula. Tujuan pendidikan Islam dengan jelas mengarah kepada  terbentuknya insan kamil yang berkepribadian muslim, merupakan perwujudan manusia seutuhnya, taqwa, cerdas, baik budi pekertinya (beraklaq mulia) terampil, kuat kepribadiannya, berguna bagi agama, diri sendiri, dan sesama. Oleh karena itu, pendidikan Islam mestinya dapat mengarahkan semua potensi yang ada dalam diri manusia dalam segala aspek kehidupan, yaitu :

Terpadu antara Dunia dan Ukrowi

Bertolak dari rumusan tujuan pendidikan diatas, maka sistem pendidikan berorientasi pada persoalan dunia dan akhirat sekaligus. Meskipun dalam prakteknya cukup banyak lembaga-lembaga Islam yang cenderung mementingkan demensi keakhiratan semata, daripada keduaniawian. Ini terjadi karena kehidupan ukrowi di pandang sebagai kehidupan yang sesungguhnya dan terakhir, sedangkan kehidupan duniawi bersifat sementara, bukan yang terakhir.

Namun demikian, pada dasarnya pendidikan Islam memperhatikan keseimbangan dua kehidupan tersebut. Kita tidak bisa mengabaikan begitu saja. Aspek keduniawian, karena sebagai manusia yang mengemban tugas kekholifahan di muka bumi ini harus pula membekali dengan ilmu-ilmu keduniawian dan perkembangannya sehinggga dapat memenuhi tugas itu secara maksimal.

Dikotomi antara dunia dan akhirat , dikotomi antara unsur-unsur kebendaan dan unsur agama, materialisme dan orientasi nilai-nilai ilahiah semata ,justru akan melahirkan manusia yang berkepribadian terbelah (split personality). Mereka yang memilih keberhasilan di alam ‘vertikal’ cenderung berfikir bahwa kesuksesan dunia justru adalah sesuatu yang bisa “dinisbikan” atau sesuatu yang bisa demikian mudahnya “dimarjinalkan”.

Hasilnya mereka unggul dalam kekhusyuan dzikir dan kekhidmatan berkontemplasi namun kalah dalam percaturan ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan di alam “horizontal” begitupun sebaliknya yang hanya berpijak pada alam kebendaan, kekuatan berfikirnya tidak pernah diimbangi dengan kekuatan dzikir.

kebendaan yang masih membelenggu hati, tidah memudahkan baginya untuk berpijak pada alam fitrahnya (zero mind) [7] Padahal sistem pendidikan Islam menekankan pada pembentukan kepribadian yang berujung pada fitrah dasar manusia untuk ma’rifah Allah dan bertaqwa kepada-Nya, seperti diungkapkan oleh Muhammad Fadhil Al- Jumaly yang dikutip oleh Mastuhu, menunjukkan keterikatan duniawiyah dan ukrowiyah sekaligus.

Karena itu, salah satu prinsip sistem pendidikan Islam adalah keharusan untuk menggunakan metode pendekatan yang menyeluruh terhadap manusia yang meliputi dimensi jasmani-ruhani dan semua aspek kehidupan, baik yang dapat dijangkau akal maupun yang hanya diimani melalui kalbu, bukan hanya lahiriyahnya saja tetapi juga batiniyahnya.[8]

Terpadu antara ranah kognitif, afektif dan psikomotorik

Hakekat pendidikan adalah suatu usaha mengantarkan peserta didik untuk dapat menggali potensi didrinya menjadi suatu realitas yang real. Oleh karena itu, kegiatan dan proses belajar mengajar dalam suatu pendidikan adalah penumbuhan dan pengembangan peserta didik sesuai dengan hakekat potensialnya tersebut.dalam pengembangan potensi-potensi yang ada pada diri peserta didik, dipahami bahwa suatu pendidikan yang baik harus menjawab tiga ranah kemanusiaan yakni ranah kognitif (intelektual) ranah afektif (emosional) dan ranah psikomotorik. Tidak ada proses pendidikan yang dianggap sempurna jika meninggalkan salah satu diantara ketiga ranah tersebut. Pendidikan yang cenderung pada ranah kognitif akan melahirka generasi yang genius secara intelektual tetapi kering emosional dan rendah kualitasnya.

Pengetahuan kognitif dan diikuti kesadaran emosi saja tidak dapat menggali potensi realitas secara optimal, namun harus di ikuti dengan penggarapan ranah psikomotorik. Dengan pengetahuan dan kesadaran yang tercipta karena kepemilikan pengetahuan intelektual dan memiliki keinginan untuk berbuat oleh adanya dorongan emosional, tetapi tidak dapat benar-benar terwujud suatu tindakan yang nyata akibat tidak tergarapnya ranah psikomotorik. Penggarapan ranah psikomotorik terkait dengan pengembangan etos kejujuran, kerja keras, profesional, kesopanan, dan sosial-filantropik dalam bentuk disiplin dan latihan-latihan nyata.

Dengan demikian pendidikan Islam, dalam prosesnya, menyertakan program intensif peningkatan intelektual dan menghidupkan aspek spiritual yang akhirnya dapat menjadi modal untuk hidup dalam kebudayaan bangsa yanh selalu berkembang seiring pencapaian kemajuan peradapan manusia.

 

[1] Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta : Grafindo, 1996) hal. 11

[2] Abd al Fatah Jalal, Min al Ushul al tarbiyah fil al Islam, (Mesir : Dar al Fikr, 1997) hal. 27

[3] Syed Muhammad al Naquid al Attas, Konsep Pendidikan Islam, (Bandung : Mizan, 1990) hal.  60

[4] Al Roghib al Isfahani, Mufrodat alfadz al Qur’an, (Damaskus : Dar al Qalam, 1992) hal 336

[5] Abd al Rohman al Nahkawi, Ushul al tarbiyah al Islamiyah wa Asalibuha (Damaskus : Dar al Fikr 1992) hal. 32

[6] A Malik Fajar, ”Pengembangan Pendidikan Islam”, dalam Nafis (Ed), Konstekstualisasi Ajaran Islam : 70 Tahun Prof Dr. Munawir Sjadzali, MA, (Jakarta : IPHI dan Paramadina, 1995) hal. 507

[7] Ari Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (Jakarta : Arga 2001), hal.xxxviii

[8] Sayid Quthb, Konsep Pendidikan Islam, 1984, t.p, hal. 27-28

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *