PENGERTIAN PABRIK DAN MANFAAT PABRIK SAWIT

 

PENGERTIAN PABRIK DAN MANFAAT PABRIK SAWIT, PABRIK KELAPA SAWIT, PABRIK PRODUKSI KELAPA SAWIT, PABRIK UNTUK KELAPA SAWIT, PABRIK UNTUK OLAH BAHAN BAKU, PABRIK MENTAH KELAPA SAWIT, UNDANG-UNDANG K3, UNDANG-UNDANG KESELAMATAN, 

 

Pabrik adalah tempat dimana faktor-faktor produksi seperti manusia, mesin, alat, material, energi, uang, informasi dan sumber daya alam dikelola bersama-sama dalam suatu sistem produksi guna menghasilkan suatu produk atau jasa secara efektif, efisien dan aman. (Pustaka Serpong, 2008).

Dalam suatu industri, keberadaan pabrik sangat menentukan kelayakan dan kemampanan industri yang dijalankan. Mengingat berbagai pertimbangan dalam membangun sebuah pabrik sehingga harus mengacu pada beberapa faktor. Dalam memilih lokasi pabrik setidaknya diperlukan dua langkah, pemilihan daerah dan pemilihan berdasarkan size dari jumlah penduduk dan lahan secara luas.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli terhadap beberapa kondisi umum dalam proses penentuan lokasi pabrik, yaitu: (Yamit, 1996).

Lokasi di kota besar (city location)

Diperlukan tenaga kerja terampil dalam jumlah yang besar,

Proses produksi sangat tergantung pada fasilitas-fasilitas yang umumnya hanya terdapat di kota besar seperti listrik, gas dan lain-lain,

Kontak dengan suplier dekat dan cepat,

Sarana komunikasi dan transportasi mudah didapatkan,

Banyak persoalan tenaga kerja,

Ekspansi sulit dilakukan dan harga tanah mahal.

Lokasi di pinggir kota (suburban location)

Semi-skilled atau female labor mudah diperoleh,

Menghindari pajak yang berat seperti halnya lokasi terletak di kota besar,

Tenaga kerja dapat tinggal berdekatan dengan lokasi pabrik,

Rencana ekspansi pabrik akan mudah dilakukan,

Populasi tidak begitu besar sehingga masalah lingkungan tidak banyak timbul,

Lokasi jauh di luar kota (country location)

Lahan yang luas sangat diperlukan baik untuk keadaan sekarang maupun rencana ekspansi yang akan datang,

Pajak terendah lebih dikehendaki,

Tenaga kerja tidak terampil dalam jumlah besar lebih dikehendaki,

Standar upah minimum jauh lebih rendah,

Tenaga kerja lebih mudah didapatkan,

Baik untuk proses manufakturing produk-produk yang berbahaya.

Sementara faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi pabrik adalah sebagai berikut: (Assauri, 1993).

Faktor utama; letak dari pasar, letak dari sumber bahan mentah, terdapatnya fasilitas pengangkutan, supply dari buruh dan tenaga kerja yang tersedia dan terdapatnya pembangkit tenaga listrik.

Faktor sekunder; rencana masa depan, biaya dari tanah dan gedung, kemungkinan perluasan, terdapat fasilitas service, terdapatnya fasilitas pembelanjaan, masyarakat di daerah itu (sikap, besar dan keamanan), iklim, tanah, perumahan yang ada dan fasilitas-fasilitas lainnya.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut sangat menentukan penghasilan yang akan diperoleh setelah pabrik berfungsi. Lokasi juga akan mempengaruhi keselamatan pekerja pabrik.

UNDANG-UNDANG K3
Keselamatan kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya. (UU Kesehatan 1992 Pasal 23).

Konsep dasar K3 adalah identifikasi masalah, evaluasi dan tindakan pengendalian. Ruang lingkup kesehatan kerja meliputi berbagai penyerasian antara pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya dalam hal metode kerja, proses kerja dan kondisinya. Hal ini memiliki tujuan: (Sunarto, 2010).

Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja di semua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya.

Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh keadaan/kondisi lingkungan kerjanya.

Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam pekerjaannya dan kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.

Menempatkan dan memelihara pekerja di suatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan kampuan fisik dan psikis pekerjanya.

Untuk lebih jelasnya mengenai Undang-Undang K3 dan kesehatan lingkungan (industri) dapat dilihat pada jabaran undang-undang sebagai berikut:

UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

UU No. 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja

UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan Kerja

Kepres No. 22 tahun 1993 tentang Penyakit yang Ditimbulkan karena Akibat Hubungan Kerja

Kepmen tenaga Kerja/No. Kep 62/Men/1992 tentang Pedoman Diagnosis dan Penilaian Cacat karena Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja.

UU No. 25 tahun 1997 tentang Tenaga Kerja

UU RI No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Bahaya Debu Pembakaran Kelapa Sawit

Pembakaran yang dilakukan oleh pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) mengeluarkan asap atau debu yang sangat berbahaya terhadap kesehatan. Bahaya yang ditimbulkan karena asap tersebut mengandung “dioksin”. Dioksin merupakan suatu zat racun yang mempengaruhi fungsi otak. (Kaskus, 2012).

Dioksin adalah istilah yang umum dipakai untuk kelompok bahan kimia yang berstruktur mirip dan memiliki mekanisma reaksi yang sama, yaitu kelompok polychloro dibenzo dioxin (PCDD) dan kelompok polychloro dibenzo furan (PCDF). Dioksin ini timbul sebagai produk sampingan dari berbagai proses industri yang melibatkan klorin seperti pada pabrik pestisida, pulp, kertas, plastik dll. Senyawa dioksin merupakan senyawa yang terdiri dari atom karbon, hidrogen, oksigen dan klor. (Kamus Ilmiah, 2012).

Fungsi otak yang terganggu akibat asap hasil sebuah pembakaran, tidak serta merta diketahui penyakitnya. Bahkan dampak dari terganggunya fungsi otak terkadang tidak diketahui, tapi dipastikan sangat berbahaya bagi mahluk hidup, termasuk flora dan fauna. Selain fungsi otak, dioksin akibat pembakaran juga akan menimbulkan asap putih yang mengandung gas hidrogen klorida (HCl). Jika gas ini terhirup dan masuk ke dalam paru-paru bersama udara yang mengandung air, maka HCl akan berubah menjadi asam klorida yang korosif. Hal ini akan menyebabkan luka parah pada saluran pernapasan. (Raja Pembalut, 2012).

Selain berimbas langsung pada kesehatan, bau yang dikeluarkan pun tak sedap dicium, debu yang dihirup bersamaan dengan asap itu merupakan abu tangkos atau janjangan kosong buah kelapa sawit. Asap bercampur abu tangkos semakin pekat ketika menjelang sore dan malam. Pada saat tiupan angin semakin kencang di senja hari, asap dan debu turun ke permukaan bumi dan mendarat di daerah pemukiman masyarakat. Saluran pernafasan masyarakat yang tinggal sekitar pembakaran pabrik Pengolakan Kelapa Sawit akan sangat terganggu. (Tribun Pekanbaru, 2012).

DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013
FIKIH
QURAN HADITS
SEJARAH
BAHASA INDONESIA
BAHASA INGGRIS
BAHASA ARAB
SKI
FISIKA
KIMIA
BIOLOGI
MATEMATIKA
SOSIOLOGI
GEOGRAFI
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
EKONOMI
PKN
IPA TERPADU
IPS TERPADU
SENI BUDAYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *