PENGERTIAN METODE RESITASI DAN JENIS METODE RESITASI

 
METODE RESITASI PENGERTIAN METODE RESITASI DEFINISI METODE RESITASI Pengertian Metode Resitasi – Dalam dunia pendidikan pemberian tugas atau resitasi sering diartikan dengan pekerjaan rumah atau PR, akan tetapi dalam kenyataannya metode resitasi ini lebih luas pengertiannya, karena metode resitasi merupakan aspek pengajaran yang banyak mengambil bagian yang aktif dalam kegiatan belajar siswa.

Dalam kegiatan belajar mengajar siswa harus diberi kesempatan untuk berkembang menjadi manusia yang pada akhirnya dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas tugas hidup. Bimbingan dan pendidikan yang menuju ke tahap manusia dewasa dapat dilakukan dengan menggunakan metode mengajar yaitu metode resitasi (pemberian tugas).
Djajasastra (1994: 46) menyebutkan, metode resitasi adalah suatu cara yang diberikan oleh adanya kegiatan perencanaan antara siswa dengan guru mengenai sesuatu persoalan atau problema yang harus diselesaikan (dikuasi) oleh siswa dalam jangka waktu yang disepakati antara siswa dengan guru.
Berdasarkan kutipan di atas jelaslah bahwa tugas atau pekerjaan rumah merupakan bentuk kegiatan belajar siswa yang dilaksanakan siswa dengan tugas yang diberikan guru. Di mana guru dalam melaksanakan tugasnya kepada siswa diberikan semacam aturan yang memungkinkan siswa mau melaksanakan tugas dengan disiplin dan penuh tanggung jawab.
Bagian terpenting dari metode ini adalah yang diberikan harus dapat dipertanggung jawabkan oleh siswa. Guru harus selalu menagih serta menanyakan setiap tugas yang diberikan. Sebab hal ini akan membawa dampak positif yang besar pada proses belajar mengajar berikutnya.
Tugas yang diberikan harus direncanakan oleh guru agar efektif, dan tugas tersebut harus sesuai dengan materi yang diajarkan kepada siswa. Nasution (1992: 203) memberikan anggapan; pekerjaan harus diintegrasikan dengan apa yang telah dipelajari anak sebelumnya, pekerjaan rumah (PR) harus didasarkan atas apa yang telah dikuasi anak dan pekerjaan rumah (PR) harus didasarkan atas pengetahuan dan ketrampilan yang harus oleh semua siswa.
Dengan demikian, tugas yang diberikan oleh guru dapat dikerjakan siswa bersama dengan teman-temannya. Akan tetapi untuk menghindari jangan sampai siswa itu hanya menulis tugas yang telah dikerjakan oleh temannya maka tugas tersebut harus dicek kembali oleh guru dan siswa harus mempertanggungjawabkan tugas yang telah dibuatnya.
Tujuan Penggunaan Metode Resitasi
Untuk mendapatkan hasil belajar siswa yang memuaskan, guru merumuskan tujuan yang jelas hendak dicapai oleh siswa. Roestiyah (1998: 133) mengemukakan, teknik pemberian tugas atau resitasi biasanya digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap.
Guru diharapkan bila akan menggunakan teknik itu agar sasaran dapat tercapai perlu mempertimbangkan tujuan-tujuan yang dicapai. Subari (1994: 58) memberikan beberapa tujuan yang semestinya dicapai dalam pelaksanaan metode resitasi, di antaranya: merangsang agar siswa berusaha lebih baik, memupuk inisiatif, bertanggung jawab, berdiri sendiri, membawa kegiatan-kegiatan sekolah yang berharga pada minat siswa yang masih berulang, memperkaya pengalaman-pengalaman siswa dengan menggunakan waktu luang di sekolah dan memperkuat hasil belajar dalam usaha mencapai tujuan pendidikan.
Supaya tujuan-tujuan yang telah dikemukan tercapai siswa harus dapat memahaminya, sehingga siswa tersebut melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, begitu juga tugas yang diberikan cukup jelas bagi siswa, sehingga dapat mengerti apa yang harus dikerjakan dan apa yang menjadi tugasnya. Melalui kegiatan-kegiatan atau tugas-tugas yang diberikan di luar sekolah akan menambah dan memperluas pengetahuan siswa serta keterampilan mereka di sekolah. Dengan adanya tugas tersebut, diharapkan mampu menyadarkan siswa untuk selalu memanfaatkan waktu senggang pada hal-hal yang menunjang belajarnya dengan mengisi kegiatan-kegiatan yang berguna dan kontruktif.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Resitasi  
Setiap mengajar yang digunakan oleh guru mempunyai kelebihan dan kekurangan, begitu juga dengan metode resitasi.
Subari (1994: 88) mengemukakan mengenai kelebihan metode resitasi, kelebihan metode ini adalah sebagai berikut:
Para siswa kesempatan menumpuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan berdiri sendiri.
Pengetahuan yang diperoleh para pelajar dari hasil eksperimen atau penyelidikan yang berhubungan minat mereka lebih dirasakan kegunaannya untuk belajar mereka.
Melalui pemberian tugas akan terjadi penguatan pada diri siswa tentang materi pelajaran yang diterimanya di sekolah, sehingga timbul sikap positif terhadap pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Di samping itu dapat pula membina sikap untuk terbiasa belajar sendiri, memecahkan masalah-masalah dan bertanggung jawab terhadap hasil kerjanya sendiri.
Mengenai kekurangan metode resitasi juga dikemukakan oleh Subari (1994: 88-89), adalah sebagai berikut:
Ada beberapa siswa mempunyai kecenderung untuk menyalin pekerjaan orang lain.
Ada kemungkinan pekerjaan itu dikerjakan oleh orang lain.
Pemberian tugas yang sesuai dengan kemampuan individu masing-masing sangat sulit.
Terlalu sering memberikan tugas kepada siswa akan menimbulkan kelelahan karena tugas tersebut terlalu berat.
Adanya dari pihak guru sendiri enggan memeriksa hasil tugas siswa, dan kemungkinannya hanya di paraf atau ditandatangani tanpa diperiksa lebih teliti.
Dengan demikian jelaslah bahwa apabila tidak diawasi maka tugas yang diberikan bisa jadi dikerjakan oleh lain atau siswa hanya menyalin punya teman, di sini kerja sama antar guru dengan orang tua sangat diperlukan, karena guru tidak mungkin mengawasi murid dalam melaksanakan tugasnya di rumah maka orang tua harus turut membantu untuk mengawasi anak melaksanakan tugasnya.
Di samping itu juga perlu diingatkan bahwa semua guru pasti membeirkan tugas. Akibatnya tugas siswa terlalu banyak sehingga menyebabkan siswa mengalami kesulitan atau kesukaran dalam mengerjakan tugasnya, serta dapat menganggu pertumbuhan siswa, karena tidak mempunyai waktu untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan lain, sehingga membuat siswa itu cepat bosan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan
Secara umum faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat bersumber dari siswa itu sendiri, yang dikatakan dengan faktor intern dan dapat bersumber dari luar diri siswa yang disebut faktor ekstern.
Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu itu sendiri. Adapun yang termasuk faktor intern adalah sebagai berikut:
Intelegensi
Siswa yang mempunyia intelegensi yang tingga dapat mencapai prestasi yang lebih baik dari pada yang mempunyai intelegensi rendah. Hal ini sesuai dengan penjelasan Surya (1981: 26) yang mengatakan bahwa kemampuan dasar (intelegensi) merupakan wadah bagi kemungkinan tercapainya hasil belajar. Jika kemampuan itu rendah, maka hasil yang diperoleh atau dicapai akan rendah pula.
Bakat
Bakat adalah kegairahan dan kemampuan untuk belajar. Kemampuan akan berkembang dengan baik menjadi kecakapan yang nyata apabila kemampuan tersebut diberikan kesempatan untuk dapat disalurkan. Seperti yang dikemukakan oleh Martensi (1980: 16) bahwa anak-anak yang menuntut ilmu pengetahuan yang tidak sesuai dengan bakatnya sering sekali mengalami kesukaran dalam menerima pelajaran yang dituntutnya. Adapun jika sesuai dengan bakatnya prestasi belajarnya akan baik, bergairah dan giat belajar.
Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan-kegiatan yang diminati seseorang yang disertai dengan rasa senang. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena apabila bahan pelajaran yang dipelajari tidak diminati oleh siswa, maka siswa tersebut tidak akan belajar sebaik-baiknya. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Hamalik (1983: 149) bahwa kurangnya minat menyebabkan kurangnya perhatian dan usaha belajar, sehingga menghambat studinya.
Demikian pula siswa akan belajar dengan baik dan bergairah apabila pelajaran tersebut sesuai minat dan menarik perhatiannya, sehingga lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar, walaupun tidak ada dukungan dari luar. Hal ini seperti yang dikatakan Nurkanca (1993: 215) bahwa anak-anak tidak perlu mendapat dorongan dari luar apabila pekerjaan yang dilakukannya cukup menarik minatnya. 
Dapat dikatakan minat adalah salah satu faktor yang turut mempengaruhi proses belajar siswa, karena itu untuk memperoleh hasil belajar yang baik perlu diperhatikan kesesuaian antara mata pelajaran dengan minat siswa.
Motivasi
Motivasi adalah dorongan yang mendasari dan mempengaruhi setiap usaha serta kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Untuk mencapai tujuan itu siswa harus berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motivasi itu sendiri sebagai daya pendorongnya. Slamento (1995: 90) mengemukakan bahwa dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau padanya memperhatikan merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang menunjang belajar.
Dalam kegiatan belajar mengajar, apabila ada siswa yang tidak mempunyai motivasi untuk belajar maka seorang guru harus mampu membangkitkan semangat siswa untuk belajar. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Sudirman (2001: 75) menciptakan kondisi atau proses yang mengarahkan siswa itu melakukan aktivitas belajar. Peran guru sangat penting untuk melakukan usaha-usaha agar dapat menumbuhkan dan memberikan semangat atau motivasi kepada anak didiknya untuk dapat melakukan aktivitas belajar dengan baik.
Kesehatan
Kesehatan berpengaruh terhadap kegaiatan belajar belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar seseorang akan terganggu jika kesehatannya terganggu. Selain itu ia juga akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing atau juga kemungkinan adanya gangguan fungsi alat indera atau tubuhnya sehingga membuat ia tidak bisa berkonsentrasi. Kartono (1995: 3) mengatakan bahwa keadaan tubuh yang sehat merupakan kondisi yang memungkinkan seseorang untuk dapat belajar secara aktif.
Kesehatan seseorang siswa sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar. Siswa yang sering sakit biasanya mengalami kesulitan tertentu dalam belajar. Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan tubuhnya agar tetap terjaga dengan cara selalu menjaga kondisi tubuhnya.
Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang berada di luar diri siswa itu sendiri. Adapun yang termasuk faktor-faktor tersebut adalah:
Lingkungan Keluarga
Keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama sebagai tempat anak bergaul dan berinteraksi. Lingkungan keluarga mempunyai peranan penting bagi perkembangan siswa, cara orang tua mendidik, anaknya akan berpengaruh terhadap belajarnya. Kartono (1995: 5) mengemukakan bahwa keluarga mempunyai pengaruh baik terhadap keberhasilan belajar siswa, apabila keluarga, khususnya orang tua bersifat merangsang dan membimbing terhadap aktivitas belajar anaknya.
Orang tua acuh tak acuh dan kurang memperhatikan pendidikan anaknya, akan menjadi penyebab kesulitan belajar sehingga prestasi belajar anak akan menurun. Keadaan dan rumah tangga juga mempengaruhi anak dalam belajar. Rumah yang ramai dan suasana tegang tidak akan memberi ketenangan dan menganggu anak belajar, membuat anak malas belajar.
Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah adalah lingkungan kedua tempat siswa berinteraksi setelah lingkungan keluarga. Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup guru atau metode mengajar yang dipakai, kurikulum, gedung sekolah, waktu sekolah dan disiplin sekolah. Di antara faktor tersebut adalah: metode mengajar guru, kurikulum, gedung sekolah, waktu sekolah , dan disiplin sekolah.
Lingkungan Masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa, pengaruh ini terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat akan selalu mempengaruhi perkembangan pribadinya. Slameto (1995: 2) mengatakan kegiatan siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya.
Kerangka Berpikir
Metode resitasi merupakan salah satu metode pembelajaran yang mengaktifkan siswa selama proses pembelajaran. Dalam metode ini mengharuskan siswa untuk kembali berpikir akan pengetahuan baru tidak hanya terfokus pada pengetahuan yang diberikan guru di dalam kelas.
Metode ini dapat diterapkan pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, karena pembelajaran ini merangsang siswa untuk berpikir dan mengetahui banyak hal selain pelajaran. Pembelajaran yang berlangsung juga harus diikuti dengan informasi terkini sehingga siswa bisa membaca dari berbagai referensi selain pemberian guru. Selain itu materi pelajaran Sistem Pemerintahan sangatlah luas dan selalu berubah sesuai dengan pengendali kekuasaan sebuah negara, termasuk Indonesia.
Metode resitasi dapat mengasah wawasan siswa dan akan mengaktifkan siswa dalam pembelajaran, sehingga aktivitas dan kemampuan siswa dalam menyampaikan gagasan atau pendapat dalam proses pembahasan materi ajar akan semakin dimengerti.
 
METODE RESITASI SANGAT COCOK DITERAPKAN UNTUK BELAJAR SISWA. 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *