PENGERTIAN METODE CERITA DAN FUNGSI METODE CERITA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

PENGERTIAN METODE CERITA DAN FUNGSI METODE CERITA DALAM PENDIDIKAN ISLAM, PANDANGAN ISLAM UNTUK METODE CERITA, KEUNGGULAN METODE CERITA, KEKURANGAN METODE CERITA, KELEBIHAN METODE CERITA, SKRIPSI LENGKAP METODE CERITA

TUJUAN METODE CERITA Tujuan metode cerita adalah agar anak dapat membedakan perbuatan yang baik dan buruk sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bercerita guru dapat menanamkan nilai-nilai Islam pada anak didik, seperti menunjukkan perbedaan perbuatan baik dan buruk serta ganjaran dari setiap perbuatan, pengalaman-pengalaman dalam kehidupan, pengetahuan baru dan segala sesuatu yang dapat memberikan manfaat begi kelangsungan hidup manusia. Melalui metode bercerita anak diharapkan dapat membedakan perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.[1]

Menurut Asnelli Ilyas bahwa tujuan metode cerita dalam pendidikan anak adalah “menanamkan akhlak Islamiyah dan perasaan ketuhanan kepada anak dengan harapan melalui pendidikan dapat menggugah anak untuk senantiasa merenung dan berpikir sehingga dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari.[2]

Menurut Hapidin dan Wanda Guranti, tujuan metode cerita adalah sebagai berikut:

Melatih daya tangkap dan daya berpikir;

Melatih daya konsentrasi;

Membantu perkembangan fantasi;

Menciptakan suasana menyenangkan di kelas.[3]

Menurut Abdul Aziz Majid, tujuan metode cerita adalah sebagai berikut:

Menghibur anak dan menyenangkan mereka dengan cerita yang baik;

Membantu pengetahuan anak secara umum;

Mengembangkan imajinasi;

Mendidik akhlak;

Mengasah rasa.[4]

Sedangkan menurut Moeslichatoen R, bahwa tujuan metode cerita adalah “salah satu cara yang ditempuh guru untuk memberi pengalaman belajar agar anak memperoleh penguasaan isi cerita yang disampaikan lebih baik. Melalui metode cerita maka anak akan menyerap pesan-pesan yang dituturkan melalui kegiatan bercerita. Panuturan cerita sarat informasi atau nilai-nilai dapat dihayati anak dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.[5]

Dalam kegiatan cerita anak dibimbing untuk mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan cerita dari guru, dengan jelas metode cerita disajikan kepada anak didik bertujuan agar mereka memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari dan menambahkan rasa cinta anak-anak kepada Allah SWT., Rasulullah SAW., dan Al-Qur’an.

Metode cerita sangatlah ditekankan dalam pembelajaran pada anak usia dini, mengingat usia mereka yang masih sangat senang mendengarkan, bermain dan menerima semua pengetahuan dari pendidik semata. Pendidik memberikan cerita yang dapat menumbuhkan pengetahuan baru bagi siswa. Hal ini dengan ditanamkan nilai-nilai positif sehingga ke depan siswa dapat menerima pengetahuan dengan baik.

Fungsi Metode Cerita
Menurut M. Arifin, secara umum metode berfungsi “sebagai pemberi atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan tersebut.”[6] Bercerita bukan hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga merupakan suatu cara yang dapat digunakan dalam mencapai sasaran-sasaran atau target pendidikan. Metode cerita dapat menjadikan suasana belajar menyenangkan dan menggembirakan dengan penuh dorongan dan motivasi sehingga pelajaran atau materi pendidikan itu dapat dengan mudah diberikan.[7] Fungsi metode cerita dapat dijabarkan sebagai berikut:

Menanamkan nilai-nilai pendidikan yang baik. Melalui metode cerita sedikit demi sedikit dapat ditanamkan hal-hal yang baik kepada anak didik, dapat berupa cerita para rasul atau umat-umat terdahulu yang memiliki kepatuhan dan keteladanan.

Dapat mengembangkan imajinasi anak. Kisah-kisah yang disajikan dalam sebuah cerita dapat membantu anak didik dalam mengembangkan imajinasi mereka. Dengan hasil imajinasinya diharapkan mereka mampu bertindak seperti tokoh-tokoh dalam cerita yang disajikan oleh guru.

Mengetahui hal-hal yang baik adalah harapan dari sebuah cerita sehingga rasa ingin tahu tersebut membuat anak berupaya memahami isi cerita. Isi cerita yang dipahami tentu saja akan membawa pengaruh terhadap anak didik dalam menentukan sikapnya.

Cerita yang bersumber dari Al-Qur’an dan kisah-kisah keluarga muslim diperdengarkan melalui cerita diharapkan anak didik tergerak hatinya untuk mengetahui lebih banyak agamanya dan pada akhirnya terdorong untuk beramal di jalan lurus.[8]

Pada dasarnya metode bercerita merupakan salah satu bentuk pemberian pengalaman belajar bagi anak usia prasekolah dengan membawakan cerita secara lisan baik dengan membaca langsung dari buku maupun dengan menggunakan ilustrasi gambar. Melalui metode bercerita, anak dilatih untuk menjadi pendengar yang kritis dan kreatif. Pendengar yang kritis mampu menemukan kesesuaian antara yang telah didengar dengan yang telah dipahami. Sedangkan pendengar yang kreatif mampu menemukan pemikiran-pemikiran baru dari apa yang telah didengarnya. Metode ini juga dapat melatih konsentrasi dan daya tangkap serta membantu perkembangan imajinasi anak.[9]

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN METODE CERITA
Dalam proses belajar mengajar, cerita merupakan salah satu metode yang terbaik. Dengan adanya metode bercerita diharapkan mampu menyentuh jiwa jika didasari dengan ketulusan hati yang mendalam. Metode cerita memang mengandung makna tersendiri bagi setiap orang. Namun metode ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan metode cerita adalah:

Kelebihan metode cerita

Kisah dapat mengaktifkan dan membangkitkan semangat anak didik. Karena anak didik akan senantiasa merenungkan makna dan mengikuti berbagai situasi kisah, sehingga anak didik terpengaruh oleh tokoh dan topik kisah tersebut;

Mengarahkan semua emosi sehingga menyatu pada satu kesimpulan yang terjadi pada akhir cerita;

Kisah selalu memikat, karena mengundang untuk mengikuti peristiwanya dan merenungkan maknanya;

Dapat memperngaruhi emosi, seperti takut, perasaan diawasi, rela, senang, sungkan, atau benci sehingga bergelora dalam lipatan cerita.[10]

Kekurangan metode cerita

Pemahaman anak didik akan menjadi sulit ketika kisah itu telah terakumulasi oleh masalah lain.

Bersifat monolog dan dapat menjenuhkan anak didik.

Sering terjadi ketidakselarasan isi cerita dengan konteks yang dimaksud sehingga pencapaian tujuan sulit diwujudkan.[11]

Penyampaian materi pelajaran dengan cara kronologis terjadinya sebuah peristiwa baik benar atau fiktif semata. Metode cerita dalam pendidikan agama menggunakan paradigma Al-Qur’an dan Hadits sehingga memiliki substansi cerita yang valid tanpa diragukan keabsahannya. Namun terkadang kevalidan sebuah cerita terbentur pada sumber daya manusia yang menyampaikan cerita itu sendiri sehingga terjadi banyak kelemahannya.

Metode cerita sebenarnya lebih mudah diterima dan dicerna oleh anak usia dini mengingat cara penyampaian yang tidak menggurui, hanya memberi cerita lalu menyimpulkan makna cerita tersebut. Metode cerita juga menuntun anak untuk aktif berpikir, memainkan emosi dan terlarut dalam cerita sehingga membuat anak tidak jenuh.

Selain kelebihan, tentu saja metode ini belum mampu memberikan pemahaman yang mendalam bagi anak. Hal ini disebabkan tidak semua kalimat yang diceritakan dipahami oleh anak. Metode ini juga menjenuhkan anak sebab cerita yang disampaikan belum tentu menarik minat mereka untuk mendengar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *