PENGERTIAN INTERNALISASI DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PENGERTIAN INTERNALISASI DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, PENERAPAN NILAI-NILAI AQIDAH DALAM PENDIDIKAN ISLAM, PENGERTIAN INTERNALISASI
PENGERTIAN INTERNALISASI
Internalisasi dapat didefinisikan secara etimologi mempunyai arti “proses” sedangkan menurut terminologi yang berarti “menunjukkan suatu proses”. Sehingga internalisasi dapat didefinisikan sebagai “suatu proses”. Internalisasi dapat diartikan sebagai “penghayatan, pendalaman, penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui binaan, bimbingan dan sebagainya”.[1]

Internalisasi pada dasarnya merupakan proses puncak dalam hirarki proses pendidikan nilai dari lingkungan belajar kepada siswa terutama melalui kelangsungan belajar mengajar dalam sistem Pendidikan Islam.[2] Internalisasi tidak lain adalah proses penanaman atau pembumian nilai-nilai sehingga menghujam ke dalam jiwa siswa. Setelah nilai-nilai menjadi internal, maka akan melekat kuat, mengakar dan mendarah daging dalam diri siswa. Bahkan hati nurani dan seluruh sikap hidupnya mencerminkan nilai-nilai yang dianut.[3]

Berdasarkan definisi tersebut internalisasi dalam mengajarkan nilai-nilai aqidah merupakan pembinaan yang mendalam dan menghayati nilai-nilai agama yang dipadukan dengan nilai-nilai pendidikan secara utuh yang sasarannya menyatu dalam kepribadian peserta didik, sehingga menjadi satu karakter atau watak peserta didik.[4]

Internalisasi juga dapat diartikan secara “psikologis yang merupakan penggabungan atau penyatuan sikap, standar tingkah laku, pendapat dan seterusnya di dalam kepribadian.” [5] Internalisasi ini menyangkut dengan moral dan karakter setiap siswa dalam proses belajar mengajar. Proses internalisasi pembinaan aqidah siswa memiliki tiga tahap :

Tahap Transformasi Nilai. Tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh pendidik dalam menginformasikan nilai-nilai yang baik dan kurang baik. Pada tahap ini hanya terjadi komunikasi verbal (suara) antara pendidik dan peserta didik atau anak asuh.

Tahap Transaksi Nilai. Suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara peserta didik dengan pendidik yang bersifat interaksi timbal-balik.

Tahap Transinternalisasi. Tahap ini jauh lebih mendalam dari tahap transaksi. Pada tahap ini bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal (suara) tapi juga sikap mental dan kepribadian. Jadi pada tahap ini komunikasi kepribadian yang berperan secara aktif.[6]

Guru mengajarkan dengan menggunakan penjelasan dan pemahaman dalam proses belajar mengajar berlangsung, apabila siswa memahami diperkenankan bertanya. Setelah guru memberikan contoh kepribadian yang baik dan sepatutnya kepada siswa untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kepribadian yang terpancar dari seorang guru mau tidak mau akan dicontoh oleh siswa.

David R. Krathowhl dalam Muhibuddin mengatakan beberapa langkah dalam pengajaran yang efektif berhubungan dengan internalisasi, sebagai berikut :

Menyimak, pendidik memberi stimulus kepada siswa, dan siswa menangkap stimulus yang diberikan.

Menanggapi (responding), siswa mulai ditanamkan pengertian dan kecintaan terhadap tata nilai tertentu, sehingga memiliki latar belakang teoritik tentang sistem nilai, mampu memberikan argumentasi rasional dan selanjutnya siswa dapat memiliki komitmen tinggi terhadap pilihat nilai tersebut.

Memberi nilai (valuing), pada tahap ini siswa sudah mampu menyusun persepsi tentang objek yang dilakukan dengan tiga tahap : yaitu percaya terhadap nilai yang ia terima, merasa terikat dengan nilai yang ia percayai (dipilihnya) itu, dan memiliki keterikatan batin (komitmen) untuk memperjuangkan nilai-nilai yang diterima dan diyakini itu.

Memorganisasikan nilai (organization), siswa mulai dilatih mengatur sistem kepribadiannya sesuai dengan sistem yang ada.

Karakterisasi nilai (characterization), apabila kepribadian sudah diatur sesuai dengan nilai tertentu dan dilaksanakan berturut-turut, maka akan terbentuk kepribadian yang bersifat satu hati, kata dan perbuatan. Teknik internalisasi sesuai dengan tujuan pendidikan agama, khususnya pendidikan yang berkaitan dengan aqidah, ibadah dan akhlak.[7]

Selain itu, internalisasi nilai-nilai aqidah juga berkaitan dengan perkembangan siswa, melalui proses internalisasi berjalan sesuai dengan perkembangan siswa. Dalam hal ini, internalisasi juga sebagai sentral proses perubahan kepribadian, watak dan tabiat siswa. Dengan demikian siswa yang beraqidah mulia akan menjalankan tuntunan agama tanpa pamrih dan paksaan. Pemaknaan nilai aqidah akan dijalankan dengan sepenuh hati, guru hanya sebagai pembimbing agar tidak menyimpang dari norma-norma agama sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadith. Internalisasi yang berhubungan dengan Aqidah sebenarnya pendekatan dengan siswa itu sendiri. “Dimulai dengan kesadaran siswa akan pentingnya beraqidah mulia untuk mengharap ridha-Nya. Dengan begitu, siswa akan mudah menjalankan perintah-Nya sesuai syariat. Pemahaman tentang aqidah akan diikuti dengan penetapan syari’ah/hukum.”[8]

DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013
FIKIH
QURAN HADITS
SEJARAH
BAHASA INDONESIA
BAHASA INGGRIS
BAHASA ARAB
SKI
FISIKA
KIMIA
BIOLOGI
MATEMATIKA
SOSIOLOGI
GEOGRAFI
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
EKONOMI
PKN
IPA TERPADU
IPS TERPADU
SENI BUDAYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *