PENGERTIAN HASIL BELAJAR DALAM PENDIDIKAN INDONESIA

 
PENGERTIAN HASIL BELAJAR, CARA MENGUKUR HASIL BELAJAR SISWA, HASIL BELAJAR SISWA SMA, HASIL BELAJAR SISWA SMP, HASIL BELAJAR SISWA SD, FORMAT HASIL BELAJAR, HASIL BELAJAR PELAJARAN IPA, HASIL BELAJAR PELAJARAN IPS, HASIL BELAJAR PELAJARAN AGAMA.
Pembelajaran yang berlangsung tidak terlepas dari aktifitas guru dan siswa. Keterlibatan guru dan siswa sangat erat kaitannya dan tidak dapat dipisahkan karena saling menbutuhkan satu saa lain. Proses belajar yang berlangsung juga dilaksanakan untuk mencerdaskan siswa. Belajar merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Belajar adalah kegiatan beproses dan merupakan unsur yang penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan di lingkungan sekitarnya.

Menurut Syah yang dikutip oleh Jihad (2008: 1) mengatakan bahwa “belajar merupakan tahapan perubahan perilaku siswa yang relatif positif dan mantap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.” Proses belajar yang berlangsung tidak terlepas dari beberapa tahap. Tahap-tahap tersebut dikemukan oleh Witting dalam Jihad (2008: 2), sebagai berikut:
1. Tahapan Acquisition, yaitu tahapan perolehan informasi;
2. Tahapan Storage, yaitu tahapan menyimpan informasi; dan
3. Tahapan Retrieval, yaitu tahapan pendekatan kembali informasi.
Berdasarkan ketiga tahap tersebut, seseorang dikatakan belajar apabila dalam diri orang itu terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Jadi dalam teori ini siswa belajar akan mendapatkan hasil belajar yaitu berupa perubahan kepribadian sebagai pola baru, misalnya pemahaman atau pengetahuan yang didapat dari proses pembelajaran.
Belajar berlangsung sepanjang hayat, karena belajar merupakan kebutuhan setiap manusia. Prinsip belajar sepanjang hayat yang dibuat oleh Komisi Delors dari United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) terbagi empat pilar, yaitu : (a) learning to know, yang berarti juga learning to learn; (b) learning to do; (c) learning to be; dan (d) learning to live together. (Alveean, 2008).
Learning to Know
Learning to know atau learning to learn memiliki definisi bahwa belajar itu pada dasarnya tidak berorientasi kepada produk atau hasil. Akan tetapi juga harus beroientasi kepada proses belajar.
Learning to Do
Learning to do mengandung pengertian bahwa belajar bukan hanya sekedar mendengar dan melihat dengan tujuan akumulasi pengetahuan, tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan akhir penguasaan kompetensi yang sangat diperlukan dalam era persaingan global.
Learning to Be
Learning to be berarti belajar itu membentuk manusia yang “menjadi dirinya sendiri”. Dengan kata lain, belajar untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu dengan kepribadian yang memiliki tanggung jawab. Sebagai manusia dan juga memiliki tanggung jawab sebagai khalifah yang menyadari akan segala kekurangan dan kelemahannya.
Learning to Live Together
Learning to live together adalah belajar untuk kerjasama. Hal ini diperlukan sesuai dengan tuntutan kebutuhan dalam masyarakat global, dimana secara individu dan kelompok tidak mungkin bisa hidup sendiri atau mengasingkan diri bersama kelompoknya.
Dari segi psikologi, menurut Whitetherington yang dikutip oleh Ngalim (1988: 86), mengemukakan bahwa “belajar adalah suatu perubahan tindakan di dalam, kepribadian yang menyatakan diri sebagai pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan sikap kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.”
Selama proses belajar terdapat beberapa hal yang penting yaitu pengalaman, proses berpikir, dan perubahan tingkah laku. Pada proses belajar, siswa merupakan subyek sedangkan guru diharapkan sebagai fasilitator dan pembimbing. Agar terjadi proses belajar yang baik, dituntut adanya suatu interaksi multi arah antara siswa dan guru. Setiap individu berperan aktif melibatkan diri dengan segala pemikiran dan kemauan untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
Dengan demikian dapat disimpulkan belajar adalah suatu aktifitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap. Setiap pembelajaran bermuara pada suatu hasil, sesuai dengan tujuan pembelajaran. Hasil yang didapat dari sekolah harus dapat digunakan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil belajar yang telah diperoleh disimpan dalam ingatan untuk kemudian digali dari ingatan bila dibutuhkan. Suatu pembelajaran dikatakan efektif bila proses pembelajaran tersebut dapat mewujudkan sasaran atau hasil belajar tertentu. Beraneka ragam tingkah laku yang diperoleh dalam belajar yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
Dalam pembelajaran guru menetapkan tujuan belajar, siswa yang berhasil belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan permbelajaran. Menurut Benjamin S. Bloom dalam Nana (2004: 54) terdapat  tiga ranah hasil belajar yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga ranah tersebut adalah sebagai berikut:
RANAH KOGNITIF
Ranah kognitif adalah tujuan yang lebih banyak berkenaan dengan perilaku dalam aspek berfikir atau intelektual. Ada enam tingkatan dalam domain kognitif, antara lain :
Pengetahuan atau ingatan yang mengacu pada kemampuan mengenal atau mengingat materi yang sudah dipelajari.
Pemahaman, mencakup kemampuan untuk menangkap makna dari arti bahan (materi) yang dipelajari.
Penerapan atau aplikasi, mencakup kemampuan untuk menarapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus atau problem yang konkrit.
Analisis, mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan kedalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhannya atau organisasinya dapat dipahami dengan baik.
Sintesis, mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian dihubungkan satu sama lain sehingga tercipta suatu bentuk baru.
Evaluasi, mengacu pada kemampuan memberikan pertumbuhan/ penilaian terhadap gejala atau peristiwa berdasarkan norma.
RANAH AFEKTIF
Berkenaan dengan watak perilaku seperti keterampilan dan kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman tertentu. Ranah afektif juga berkenaan dengan sikap dan nilai, yaitu tujuan-tujuan yang banyak berkenaan aspek perasaan, nilai, sikap dan minat perilaku siswa. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatian siswa, disiplin dan motivasi dalam pembelajaran.
Ada beberapa tingkatan bidang afektif antara lain:
Penerimaan, mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan memperhatikan rangsangan itu, seperti buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleh guru.
Pemberian respon yakni reaksi seseorang terhadap stimulasi yang datang pada siswa.
Penghargaan terhadap nilai, mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu.
Pengorganisasian, mencakup untuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan.
Karakteristik nilai, yakni keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah di nilai seseorang. Pada tingkat ini siswa bukan saja telah mencapai perilaku-perilaku tingkah laku rendah, tetapi telah mengintegrasikan nilai-nilai tersebut kedalam kehidupan yang konsisten.
RANAH PSIKOMOTOR
Tujuan atau ranah psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan dan kemampuan bertindak seseorang individu, ada tingkatannya antara lain :
Gerak refleks atau meniru (imitation) yaitu mencakup kemampuan untuk meniru perilaku yang dilihatnya.
Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar.
Kemampuan gerakan di bidang fisik.
Kemampuan gerakan-gerakan skill.
Dengan demikian hakikat hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan adalah suatu kegiatan yang dilakukan siswa dalam mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan untuk menghasilkan perubahan tingkah laku yang berhubungan dengan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Setelah guru selesai menyampaikan materi tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Evaluasi hasil belajar dapat dilakukan menggunakan alat evaluasi yang berupa tes hasil  belajar. Untuk mengukur hasil belajar dapat digunakan tes hasil belajar yang menurut jenisnya dapat dibagi  dua yaitu tes hasil belajar bentuk uraian dan bentuk obyektif. (Ngalim, 2001).
PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Isjoni (2001: 1) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah “suatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat untuk siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.”
Sedangkan menurut Slavin yang dikuitp oleh Isjoni (2001: 12), Cooperative Learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur heterogen. Keberhasilan pembelajaran kooperatif memiliki kelebihan dan kekurangan diantaranya: (Jihad, 2008: 30-31).
KELEBIHAN
Melalui pembelajaran kooperatif siswa tidak sepenuhnya bergantung pada guru.
Pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide/gagasan dengan kata-kata secara verbal dan mendengarkan ide-ide orang lain.
Dapat membantu siswa untuk respek pada orang lain dan menyadari serta menerima segala perbedaan.
Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahaman sendiri.
Memberikan rangsangan untuk berfikir.
KEKURANGAN
Untuk memahami dan mengerti pembelajaran kooperatif membutuhkan waktu.
Penilaian yang diberikan di dasarkan pada nilai kelompok.
Keberhasilan pembelajaran kooperatif merupakan periode yang cukup panjang.
Dilihat dari tugas penerapan pembelajaran kooperatif yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.
Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, penerimaan terhadap keragaman. Model Pembelajaran Kooperatif ditujukan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai perbedaan latar belakang. Perbedaan tersebut antara lain perbedaan suku, agama, kemampuan akademik, dan tingkat sosial, serta pengembangan ketrampilan sosial yang artinya aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan idea tau pendapat. (Isjoni, 2007).
PENGERTIAN TIPE STUDENT TEAM ACHVIEMENT DIVISION (STAD)
Slavin (1994: 15) mengemukakan bahwa ide dasar STAD adalah agar memotivasi siswa untuk saling bekerja sama dan membantu satu sama lain, baik dalam memahami materi maupun penyelesaian tugas dalam satu kelompok. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual, terutama terhadap siswa-siswi yang di dalam kinerja akademiknya lemah atau mainstream. Slavin (1994: 143) mengemukan bahwa STAD terdiri atas lima komponen utama, yaitu:
Presentasi kelas;
Tim;
Kuis;
Skor kemampuan individu;
Rekognisi Tim.
Presentasi kelas atau tahap penyajian materi, guru memulai dengan menyampaikan indikator yang dicapai  dan memotivasi siswa tentang materi yang akan dipelajari. Mengenai teknik penyajian materi dapat dilakukan secara klasikal atau melalui audiovisual.
Tim terdiri atas empat atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras, dan etnisitas. Fungsi utama dari tim atau kelompok ini adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, tim atau kelompok mengerjakan tugas dalam bentuk lembar tugas. Tiap anggota tim diharapkan melakukan sesuatu yang terbaik untuk tim atau kelompoknya.
Kuis, setelah guru memberikan presentasi dan/atau  siswa telah melaksanakan praktek tim atau kerja kelompok (diskusi), para siswa akan mengerjakan kuis individual. Para siswa tidak diperbolehkan untuk saling membantu dalam mengerjakan kuis. Sehingga tiap siswa bertanggung jawab secara individual untuk memahami atau pencapaian materi.
Skor Kemajuan Individual dihitung berdasarkan skor awal yang diperoleh dari rata-rata kinerja siswa tersebut sebelumnya dalam mengerjakan kuis yang sama atau berdasarkan pada nilai evaluasi semester sebelumnya. Pada skor awal setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan skor maksimal bagi kelompoknya berdasarkan skor tes yang diperoleh. Poin kemajuan individual diperoleh dari selisih skor tes dengan tes awal.
Rekognisi Tim, akan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan yang lain apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu. Tiga macam tingkatan penghargaan didasarkan pada rata-rata skor tim, yakni Tim Baik, Tim Sangat Baik, Tim Super.
Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut:
Guru  menyampaikan  materi  pembelajaran  kepada   siswa  sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. Guru dapat menggunakan berbagai pilihan   dalam    menyampaikan   materi    pembelajaran ini  kepada   siswa.  Misal, antara  lain  dengan   metode   penemuan terbimbing atau metode  ceramah.  Langkah ini tidak harus dilakukan dalam satu kali pertemuan, tetapi dapat lebih dari satu.
Guru  memberikan   tes/kuis  kepada   setiap  siswa  secara  individu sehingga akan  diperoleh nilai awal kemampuan siswa.
Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 anggota, dimana anggota kelompok mempunyai  kemampuan akademik  yang  berbeda-beda  (tinggi, sedang,  dan  rendah).   Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari budaya atau suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
Guru memberikan  tugas kepada  kelompok berkaitan dengan materi yang telah diberikan, mendiskusikannya secara bersama-sama,  saling membantu antaranggota  lain, serta membahas  jawaban  tugas yang diberikan guru. Tujuan utamanya  adalah memastikan  bahwa  setiap kelompok  dapat  menguasai  konsep dan materi. Bahan tugas untuk kelompok dipersiapkan oleh guru agar   kompetensi dasar yang diharapkan  dapat dicapai.
Guru memberikan  tes/kuis kepada setiap siswa secara individu
Guru memfasilitasi siswa dalam membuat  rangkuman, mengarahkan, dan   memberikan  penegasan  pada  materi pembelajaran yang telah dipelajari.
Guru    memberi    penghargaan    kepada    kelompok    berdasarkan perolehan  nilai peningkatan hasil belajar individual dari nilai awal ke nilai kuis berikutnya.
KERANGKA BERPIKIR
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu model pembelajaran berkelompok, di mana siswa dituntut aktif dalam kelompok dan menerima keputusan kelompok serta mampu bekerja sama dalam kelompok tanpa memandang status sesama kelompok.
Model pembelajaran kooperatif ini dapat diterapkan pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, karena menghadirkan kerja sama dalam kelompok, merangka daya pikir, meninggalkan ego serta mau menerima pendapat sesama anggota kelompok.  Pembelajaran yang berlangsung juga harus diikuti dengan kerja sama kelompok dan keaktifan anggota kelompok. 
DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *