Pandangan Orang Terhadap Pendidikan di Pesantren Indonesia

Pandangan Orang Terhadap Pendidikan di Pesantren Indonesia – Dalam dunia pesantren, disamping memberikan ilmu pengetahuan secara formal yang tertuang dalam teks, juga langsung mempraktekkan secara kontekstual atau memadukan teori dengan praktek. Pendidikan di pesantren tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga berorientasi pada proses, yaitu mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri peserta didik (manusia) itu dengan selalu memperhatikan ketiga ranah kemanusiaan, yakni ranah kognitif (intelektual), ranah afektif (emosional), dan ranah psikomotorik.

Tidak ada proses pendidikan yang dianggap sempurna jika meninggalkan salah satu dari ketiga runah ini. Oleh  karena itu keterpaduan antara transfer of knowleclge, transfer of value dan transfer of skill sebagai wujud penggarapan ketiga ranah tersebut, menjadi hal yang penting untuk diperhatikan.

Di sisi lain, hal itu juga didasarkan pada tujuan pendidikan Islam yang jelas mengarah kepada terbentuknya insan kamil yang berkepribadian muslim, yang mcrupakan perwujudan manusia seutuhnya, taqwa, cerdas, baik budi pekertinya (berakhlaq mulia), terampil, kuat kepribadiannya, berguna bagi agama, diri sendiri dan sesama.

Bertolak dari rumusan tujuan pendidikan tersebut, maka sistem pendidikan juga berorientasi pada persoalan dunia dan ukhrawi sekaligus, dan memperhatikan keseimbangan dua kehidupan tersebut. Dengan menyadari bahwa penciptaan manusia in’ menjadi khalifah di muka bumi Allah, maka untuk mengemban tugas kekhalifahan ini harus pula membekali diri dengan ilmu-ilmu keduniawian dan perkembangannya.

Dalam konteks pondok pesantren, santri (siswa) dibekali dengan pendidikan ketrampilan (vocational), atau dengan kegiatan-kegitan ekstra­kurikuler seperti yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Muayyad. Selain program-­program ketrampilan, kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan tersebut juga melatih dan membina sikap kepemimpinan santri.

Sementara itu, lembaga pendidikan lain pada umumnya berorientasi pada hasil (produk) dan lebih mementingkan transfer of knowledge daripada transfer of value dan transfer of skill. Ini berimplikasi pada menguatnya paradigma bahwa kesuksesan seseorang atau suatu bangsa dinilai dengan hal-hal yang sifatnya harus terukur dan teramati. Padahal ada hal lain yang amat penting, yakni terbentuknya generasi yang memiliki kekukuhan sikap, watak, dan budi pekerti.

Pendidikan yang cenderung bertumpu pada ranah kognitif akan melahirkan generasi genius secara intelektual, tetapi kering emosional dan rendah kualitasnya. Pengetahuan kognitif dan diikuti dengan kesadaran emosi saja tidak dapat menggali potensi menjadi realitas secara optimal, namun harus diikuti dengan penggarapan ranah psikomotorik. Penggarapan ranah psikomotorik terkait dengan pengembangan etos kejujuran, kerja keras, profesional, kesopanan dan kepekaan  sosial dalam bentuk disiplin dan latihan-latihan nyata

Adanya kebebasan, keragaman, kemandirian dan tanggungjawab

Pesantren lahir dari dan untuk masyarakat, sehingga masyarakat bebas menentukan model ataupun kurikulum pendidikan pesantren itu sendiri, apakah pesantren khusus Al-Qur’an, atau khusus Hadits, atau lebih mementingkan ilmu-­ilmu alat (Nahwu atau Bahasa), dan lain-lainnya. Dari keragaman ini justru memiliki nilai plus tersendiri, karena setiap pesantren mempunyai spesifikasi sendiri-sendiri. Ini menjadi kekayaan tersendiri bagi khazanah pendidikan Islam.

Dengan munculnya dari masyarakat, maka tingkat kemandirian untuk menjalankan roda pesantren sangat kuat, tidak bergantung kepada pihak-pihak lain, berbeda dengan lembaga pendidikan formal yang harus menunggu peraturan, juklak, juknis sampai kucuran dana dan lain-lain.

Sikap kemandirian dalam pengelolaan pendidikan ini pada gilirannya akan melahirkan santri-santri yang memiliki sikap keswadayaan, penuh kemandirian dan percaya pada diri sendiri, tawakkal dalam arti luas, dan bahkan juga membebaskan orang lain yang masih serba bergantung sebagai wujud rasa tanggung jawabnya untuk menjadikan yang lebih baik.

Oleh karena itu, sangat jarang -untuk tidak mengatakan tidak ada-alumni-alumni pesantren yang mengeluh kesulitan mencari pekerjaan sebab mereka justru berusaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, atau paling tidak bagi dirinya sehingga tidak bergantung pada orang lain atau pihak lain, karena dengan tinggal mereka terbiasa mengatur kehidupan dan persoalan ­baik secara individual maupun kolektif mereka belajar sendiri serta bertanggungjawab terhadap apa yang menjadi di pondok (mondok) persoalannya sendiri mengambil keputusan keputusannya.