MACAM-MACAM METODE PEMBELAJARAN BAGI ANAK USIA PRASEKOLAH

 

MACAM-MACAM METODE PEMBELAJARAN BAGI ANAK USIA PRASEKOLAH, METODE PEMBELAJARAN UNTUK PAUD, METODE PEMBELAJARAN UNTUK TK, METODE PEMBELAJARAN UNTUK SD, METODE PEMBELAJARAN YANG COCOK UNTUK ANAK-ANAK,


Metode artinya cara yang telah diatur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya; (cara belajar dan sebagainya).[1] Ahmad Tafsir memberikan pengertian metode adalah “cara yang paling tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu.”[2]

Metode digunakan sebagai suatu cara dalam menyampaikan suatu pesan atau materi pelajaran kepada anak didik. Di antara metode tersebut adalah:

Nasehat

Salah satu cara pelaksanaan pola asuh anak usia prasekolah dalam proses pendidikan adalah dengan cara nasehat. “Pelaksanaan pola asuh anak usia dini dengan cara nasehat sebagai sarana pendidikan untuk mencerahkan akal pikiran dan hati nurani serta menyimpulkan berbagai gagasan dan nilai yang tersirat dibalik situasi atau peristiswa.”[3]

Metode tersebut adalah dengan cara memberi nasehat, menerangkan tentang suatu perbuatan, kemudian menjelaskan akibat yang timbul. Dengan cara demikian hati anak usia dini menjadi puas dan timbul keinginan untuk melaksanakan dan meninggalkannya.

Cara nasehat sangat penting diterapkan dalam pembentukan keimanan, mempersiapkan moral, spiritual dan sosial pada anak usia dini. Sebab nasehat itu dapat membukakan mata anak usia dini pada hakikat sesuatu. Mendorongnya menuju situasi luhur dan menghiasinya dengan akhlak yang mulia dan membekalinya dengan Islam.[4]

Begitu pula melalui nasehat, anak usia dini dapat menghindari tindakan penyimpangan yang kemudian kepada perubahan diri menuju kemulian dan keutuhan. Cara inilah yang sering digunakan oleh para guru terhadap anak usia dini dalam proses pendidikan pada pelaksanaan pola asuh anak usia dini.

Pemberian Perhatian

Anak usia dini dalam pelaksanaan pola asuhnya juga dapat dididik dengan perhatian. “Perhatian yaitu mencurahkan, memperhatikan dan senantiasa mengikuti perkembangan anak dalam pembinaan aqidah, moral, persiapan spiritual dan sosial. Cara ini biasanya berupa pujian dan penghargaan.”[5]

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali dalam buku karangan C.P. Chaplin bahwa:

Apabila menampilkan akhlak terpuji dan perbuatan yang baik selayaknya dihargai dan dibalas dengan sesuatu yang menyenangkan serta di depan orang lain. Demikian juga dengan hukuman bahwa pendidik dalam memberikan hukuman bersifat yang mendidik artinya hukuman itu memiliki karakteristik tersendiri yang didasarkan atas tujuan kemaslahatan, bukan untuk menghancurkan perasaan anak usia dini dan menyepelekan harga dirinya.[6]

Pelaksanaan pola asuh anak usia dini dengan cara pemberian perhatian dianggap sebagai azaz, terkuat dalam pembentukan manusia secara utuh, yang menunaikan hak setiap orang yang memiliki hak dalam setiap kehidupannya. Dan juga termasuk mendorongnya untuk menunaikan tanggung jawab dan kewajibannya secara sempurna.

Pelaksanaan pola asuh anak usia dini dengan cara memberikan perhatian merupakan salah satu cara pendidikan yang dapat diterapkan guru dalam mendidik anak di lingkungan pendidikan. Dalam hal ini, apabila guru melihat anak usia dini melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari ajaran, guru harus menegurnya dan memberi peringatan.

Pembiasaan

“Dalam Islam dikenal dua metode (cara) pendidikan anak secara garis besar yakni pengajaran dan pembiasaan. Yang dimaksud dengan pengajaran adalah upaya teoritis dalam perbaikan dan pendidikan. Sedangkan pembiasaan adalah upaya praktis pembentukan (pembinaan) dan persiapan.”[7] Karenanya setelah diketahui bahwa kecenderungan dari naluri anak usia dini dalam pengajaran dan pembiasaan adalah sangat besar dibandingkan dengan usia lainnya. Maka hendaklah para guru untuk memusatkan perhatiannya kepada pengajaran anak usia dini tentang kebaikan dan upaya membiasakannya sejak anak tersebut mulai memahami realita kehidupan.

Satu hal yang sangat penting dilakukan oleh guru terhadap anak dalam rangka pelaksanaan pola asuh anak usia dini di lingkungan pendidikan adalah dengan cara pembiasaan. Maksudnya anak harus dilatih secara terus-menerus sehingga pendidikan yang telah diajarkan akan lebih melekat pada diri anak usia dini karena mereka telah melakukannya.[8]

Cerita

Menurut Moeslichatoen R, sesuai dengan tema dan tujuan langkah pelaksanaan dalam bercerita yaitu:

Mengkombinasikan tujuan dan tema dalam kegiatan anak,

Mengatur tempat duduk agar dapat mendengarkan dengan intonasi yang jelas,

Pembukaan kegiatan bercerita, guru menggali pengalaman-pengalaman anak sesuai dengan teman cerita,

Menggunakan alat peraga/media untuk menarik perhatian dan menetapkan rancangan cara-cara bertutur yang dapat menggetarkan perasaan anak,

Penutup kegiatan bercerita dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita.[9]

Metode cerita biasanya lebih digemari anak usia dini apabila disajikan dengan cara yang menarik. Karena pada umumnya penyajian cerita ini, “seorang guru dapat menyelipkan pendidikan, sehingga dapat mendengarkan cerita wawasan anak usia dini bertambah.”[10]

Melalui metode cerita diharapkan pengetahuan anak akan lebih bertambah dan pemahaman akan suatu ilmu mudah dimengerti. Metode cerita yang dilakukan dalam pembelajaran senantiasa bisa menghadirkan suasana baru dan menyenangkan, cara penyampaian cerita yang menarik tentu dapat membuat anak ikut senang dan mudah memahami isi cerita tersebut. Pembelajaran yang berlangsung tidak monoton dan membuat anak jenuh sehingga target yang diinginkan bisa tercapai.

DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013
FIKIH
QURAN HADITS
SEJARAH
BAHASA INDONESIA
BAHASA INGGRIS
BAHASA ARAB
SKI
FISIKA
KIMIA
BIOLOGI
MATEMATIKA
SOSIOLOGI
GEOGRAFI
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
EKONOMI
PKN
IPA TERPADU
IPS TERPADU
SENI BUDAYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *